Monday, August 11, 2008

Posted by Peak Posted on 7:14 PM | No comments

Pemain Baseball

Steve Lyonsakan dikenang sebagai pemain yang menjatuhkan celananya. Dia bisa saja dikenang sebagai pemain lapangan yanh hebat, sebagai pemain di segala posisi untuk Chicago White Sox, sebagai pria yang selalu menjadi yang pertama lari sampai mencetak nilai. Dia bisa saja dikenang sebagai pemain yang diatas rata-rata. Tetapi tidak. Steve akan dikenang sebagai pemain yang menjatuhkan celananya pada tanggal 16 Juli 1990.

Waktu itu Steve sedang seru bermain, tiba-tiba ia merasa ada pasir di dalam celananya. Langsung saja ia menjatuhkan celananya dan kemudia mengibas pasir tersebut. Dan 20.000 pasang mata melihatnya. Seperti yang bisa kamu bayangkan, ledekan demi ledekan mulai berdatangan. Dalam waktu 24 jam, ia dikenal oleh begitu banyak orang, lebih banyak dari yang pernah ia alami sepanjang karirnya. Tujuh berita siaran langsung di televisi dan sekitar dua puluh wawancara radio.

Aku sebenarnya bukan seorang penggemar Chicago White Sox. Aku juga biasanya tidak tersanjung dengan orang menjatuhkan celananya di tempat umum. Tapi aku salut kepada Steve Lyons. Kupikir semua orang yang lari sampai ke base pertama untuk mencetak nilai, pasti mendapat pujian. Tetapi, berapa orang yang kamu lihat berlari ke base lebih kepada demi menyelesaikan pekerjaannya daripada menyelamatkan mukanya?

Steve tidak menganggap ganggung yang terjadi padanya adalah sebuah halangan untuk mencetak angka, bahkan sekalipun itu harus di bayar mahal dengan cemoohan. Dunia selalu menginginkan kesuksesan ala Holywood, berjalan di atas karpet merah dengan jepretan ratusan kamera. Dibalut dengan baju yang mahal dan perhiasan yang mewah, menjadi idola jutaan penggemar dan hidupnya tanpa cela. Tipuan ini membuat setiap orang yang pernah gagal, akan merasa gagal selamanya. Ia merasa karirnya cacat, masa lalu yang buruk menjadi bayang-bayang. Tapi tidak buat Steve. Kesuksesan bukanlah selalu menang dengan seragam pertandingan yang bersih, kesuksesan adalah berani mencetak angka sekalipun tanpa seragam yang lengkap.

"Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan." - 2 Timotius 1:12

Categories:

0 comments:

Post a Comment