Meracik Jamu Kehidupan

Apakah orang kristiani tidak boleh takut pada kematian dan dapat melepaskan diri dari perasaan itu? Ataukah, sebaliknya iman membuat kita berani mengakui dan mengakrabi ketakutan kita? Justru panggilan umat beriman adalah memberi "jawaban" teologis terhadap misteri besar itu. Barangkali cukup bijak jika kita mengakui bahwa keadaan psikogis dan batin kita, di satu pihak, gentar akan kematian, namun di pihak lain kita mantap dan damai di dalam iman. Kita berada di titik tegang dari kedua hal ini. Ini bisa jadi adalah sebuah titik tegang yang kreatif, titik tegang yang sarat kesaksian, titik tegang yang esensial, dan membawanya ke dalam pengakraban mendalam terhadap realitas maut seutuhnya.

Istilah kematian atau dunia orang mati lebih banyak muncul dalam Perjanjian Lama ketimbang Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, istilah dunia orang mati ini hanya dimunculkan sebanyak 10 kali. Alkitab Terjemahan Baru terbitan LAI dan versi BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari) memakai istilah : alam maut, kematian, kerajaan maut, kematian, dan maut. Dalam Alkitab New International Version (NIV) dipakai istilah : hades, depths, death, hell, dan grave. Alkitab perjanjian baru versi Yunani menggunakan istilah hadesh dan thanatos, dalam bentuk maskulin. Dalam bahasa Ibrani, istilah dunia orang mati disebut sebagai syeol. Istilah lain yang juga dipakai untuk dunia orang mati, terutama bila yang dimaksudkan adalah neraka, yaitu gehenna, yang berasal dari kata gay hinnom (Ibrani) : Lembah Hinom.

Para penafsir tidak selalu sependapat tentang persamaan atau perbedaan istilah-istilah tersebut. Ada yang membedakan dunia orang mati dengan neraka, ada pula yang cenderung memperhatikan keterkaitannya secara akurat.

Lalu apa yang dapat kita pegang? Banyak! Pertama, Alkitab menyaksikan adanya kematian yang dialami setiap orang. Kedua, ada suatu realitas setelah kematian. Ketiga, ada Allah di dalam realitas itu. Oleh karenanya, bagi orang beriman kematian, tidaklah memisahkan kita dari Allah. Keempat, kita mengakui kemisterian maut dan realitas setelah maut, namun kita juga sekaligus menyakini rahmat dan kasih Tuhan, Allah orang hidup dan orang mati.

Dikutip dari : Meracik Jamu Kehidupan, Daniel K Listijabudi, Gloria Gaffa, 2008

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
YauHui
AUTHOR
August 28, 2008 at 12:40 AM delete

saya mau donk jamu nya :D
hehe..
emang bila dipikir2 kematian terasa menakutkan.. smp skrg juga rasanya menakutkan..
tp jika senantiasa berbuat yang terbaik.. bg diri sendiri & orang lain.. mengikuti kata hati kita dlm kehidupan sehari2.
Pasrah & terbuka akan kasih-Nya dlm kehidupan kita sehari2.
mudah2an sewaktu ajal menjemput, kita bisa ikhlas & rela.. dan meninggalkan bumi ini dengan sebuah senyuman.

Reply
avatar
KLIK SAYA
AUTHOR
August 28, 2008 at 12:16 PM delete

Web-nya Menarik. akan saya tunggu updates berikutnya.
Salam kenal.

GBU

Reply
avatar