Kasih Karunia yang Menakjubkan

Pada masa tuanya, JOHN NEWTON seringkali menyebutkan dirinya sebagai “Orang Afrika penghujat Tuhan” dan memang itulah dia sebenarnya.

Ibunya adalah seorang Kristen yang saleh yang berusaha untuk membesarkan anaknya sesuai dengan Alkitab pada abad ke 18 di Inggris. Namun wanita itu meninggal pada saat John baru berusia 7 tahun. Dengan demikian, pendidikannya menjadi tanggung jawab ayahnya yang sering melakukan perjalanan di laut dan ibu tirinya ternyata tak dapat meneruskan pendidikan spiritualnya. Di dalam mengadakan perjalanan laut dengan ayahnya membuatnya jatuh hati terhadap laut, sehingga ia pada akhirnya menjadi seorang kapten kapal. Namun justru kehidupan di luar tugasnya sehari-hari itulah yang membuat kekaguman sejarah.

Ia gemar sekali melibatkan diri dalam pesta-pesta yang berkelebihan dan kotor serta suka sekali ikut menghujat dan mengutuk Tuhan yang memang merupakan kebiasaan dari kehidupan di kapal dan dermaga. Dan ia senang sekali mengejek mereka yang ingin hidup beda, serta berusaha keras menyeret mereka kepada jalan yang sedang ia tempuh.

Memang kadang kala ia rindu untuk kembali kepada pendidikan Ibunya pada masa kecilnya dan berusaha mengubah sifatnya yang buruk itu. Namun setiap kali ia gagal dan ia kembali pada kehidupannya yang tak bernilai dan tanpa tujuan itu.

Bagian “Afrika”nya dari kehidupan John yang penuh dengan hujatan Tuhan adalah waktu ia menemukan dirinya terlibat di dalam perdagangan budak ketika ia masih muda.

Dalam perjalanan laut dari Afrika ke Inggris kapalnya hampir tenggelam karena diserang sebuah badai yang dahsyat. Ia menjadi begitu takut sehingga ia memohon kepada Tuhan agar ia diselamatkan, sambil membolak-balikan ayat-ayat Alkitab ketika kapalnya diombang-ambingkan dengan hebat di lautan Atlantik Utara.

Sebagai hasil dari pengalaman ini, John di kemudian hari menganggap kejadian itu sebagai titik konversinya dari hidup spiritualnya. Seluruh kehidupannya berubah. Ia meninggalkan hidupnya yang penuh dengan hujatan dan kecerobohan walaupun ia masih tetap terlibat dalam perdagangan budak sampai beberapa tahun kemudian. Pada perjalanan laut ke Afrika kemudian, ia terpaksa mengakui kehidupan spiritualnya yang serba dangkal dan sekali lagi berseru kepada Tuhan untuk pengampunan demi kasih setia-Nya. Setelah kembali ke Inggris, John Newton mulai dipengaruhi oleh khotbah-khotbah dari hamba-hamba Tuhan seperti George Whitefield dan Charles Westley. Tak lama kemudian ia sama sekali meninggalkan perdagangan budak dan kehidupan lautnya.

Seandainya kita dapat mewawancarai John Newton pada suatu masa dari hidupnya ketika ia masih berumur belasan tahun – misalnya ketika ia dipukuli dan diperlakukan seperti seekor anjing, dipaksa harus makan dari lantai oleh isteri seorang pedagang budak di Afrika yang kejam dan membeli John sebagai budaknya – kemudian bertanya kepadanya, “John, apakah tujuan hidupmu?”, kukira ia tak mudah untuk menjawabnya dengan positif karena hidupnya yang penuh dengan hujatan Tuhannya dan hidup moralnya yang bobrok dan kosong.

Namun, bila kita menemuinya pada kemudian hari, yaitu di pertengahan dari abad ke-18, kita akan menemui seorang John Newton yang hidupnya dipenuhi dengan tujuan yang positif. Ia belajar sendiri bahasa Ibrani, Yunani, Syria dan teologia dalam waktunya yang senggang. Kemudian ia ditahbiskan, setelah menjadi murid dan mempraktekkan berkhotbah, sebagai seorang hamba Tuhan di Gereja Anglikan. Khotbah-khotbah dan nasihat-nasihatnya demikian berharganya, sehingga banyak hamba-hamba Tuhan datang dari tempat-tempat yang jauh untuk mendengar John Newton berkhotbah atau meminta nasihatnya. Nasihatnya kepada William Willberfordlah, seorang anggota Parlemen, agar ia tetap berada di dalam Parlemen untuk memperjuangkan menghapuskan perbudakan sehingga akhirnya berhasil.

Dengan William Cowper, seorang penyair, Newton menerbitkan Olney Hymns pada tahun 1770, sejilid buku yang membuat banyak puji-pujian yang amat terkenal dalam sejarah Gereja. Lagu ciptaan John Newton “Amazing Grace” mungkin merupakan pujian yang paling terkenal dan disenangi oleh para orang percaya dan bukan orang percaya.

Adakah orang yang dapat menyangkal, bahwa hidup John Newton mempunyai tujuan yang mulia sejak ia meninggalkan keterlibatannya dalam perdagangan budak kemudian menyerahkan diri secara mutlak ke dalam Kristus dan menjadi hamba Tuhan? Juga pengarang puji-pujian, seorang penasihat untuk para pemimpin negara dan seorang teolog? Di manakah John Newton melintasi garis dari kehidupan yang tanpa tujuan dan kosong dan kemudian mempunyai kehidupan penuh dengan tujuan yang mulia? Dan di manakah Tuhan dalam proses ini? Apakah Tuhan mempunyai maksud bagi John Newton setelah ia meninggalkan kehidupannya di laut dan memilih kehidupan sebagai seorang hamba Tuhan? Ataukah Tuhan sudah terlibat di dalam kehidupannya sebagai seorang Afrika penghujat Tuhan sejak dari mula?

Suatu cara yang baik untuk mempertimbangkan pertanyaan ini adalah dengan menggunakan John Newton sebagai contoh untuk direnungkan: Bagaimana John Newton, sebagai pengarang lagu ini dapat menulis:

Amazing grace! How sweet the sound,That saved a wretch like me!

I once was lost but now am found,

Was blind but now I see.

(Kasih karunia yang menakjubkan, betapa manis suaranya,

Telah menyelamatkan seorang celaka dan malang seperti diriku

Aku pernah hilang, namun kini aku diselamatkan

Pernah buta, namun kini aku bisa melihat)

Padahal sebelumnya, ia adalah penghujat Allah dan seorang pedagang budak?

Kemampuannya untuk menyelam dalam-dalam di lautan kasih karunia yang menakjubkan dari Tuhan, hal itu hanya dapat dilakukan karena sebelumnya ia telah menyelam di kedalaman dari dosa dan kehinaan.

Dr. Robert A. Schuller

Previous
Next Post »