Kisah Pengalaman Mati Suri (III)

Terang dari Kasih

Aku diberitahu bahwa aku harus kembali. Aku hanya tahu bahwa aku akan melakukan hal itu. Hal itu memang wajar, dari apa yang telah aku lihat dan alami. Ketika aku mulai dengan perjalananku kembali ke siklus kehidupan, aku tidak pernah sadar atau tak pernah diberi tahu bahwa aku akan kembali ke dalam tubuh yang sama. Dalam hal ini aku tidak peduli. Aku percaya sekali kepada Terang dan proses Kehidupan.

Ketika siklus itu telah menjadi satu dengan Terang yang besar, aku berharap agar aku tak pernah lupa akan pengungkapan-pengungkapan dan perasaan-perasaan dari apa yang aku telah pelajari di seberang sana. Aku membayangkan menjadi sesosok manusia lagi dan hal itu mebuat aku merasa senang.
Dari apa yang telah aku lihat, aku akan mersa senang untuk menjadi atom di dalam Semesta Alam. Menjadi bagian yang manusiawi dari Allah… ini adalah berkat yang sungguh luar biasa. Ini merupakan berkat yang melampaui semua imajinasi yang sangat besar.

Bagi setiap orang, bagian dari pengalaman iman ini adalah sesuatu yang sungguh menakjubkan. Setiap dari kita, terlepas di mana kita berada, kita orang aneh atau tidak, merupakan berkat bagi planet ini. Demikianlah aku kembali ke tubuhku. Aku begitu terperanjat ketika aku membuka mataku dan merasakan bahwa aku telah kembali ke dalam tubuhku, kembali ke kamarku dengan seseorang yang sedang memandangku sambil menangis. Ia ternyata adalah Anne, pengasuhku. Ia telah menemukan bahwa aku mati tiga puluh menit sebelumnya.Aku tidak mengetahui berapa lama aku telah mati, hanya aku telah menemukan aku tiga puluh menit sebelumnya. Ia telah mematuhi perintahku agar tubuhku yang mati tidak diapa-apakan. Dengan demikian, ia dapat membenarkan bahwa aku sesungguhnya dan benar-benar telah mati.

Menurutku, hal ini bukanlah suatu pengalaman mati suri. Aku percaya bahwa aku memang benar mati, setidak-tidaknya selama satu setengah jam. Ketika aku bangun kembali, aku melihat terang dari luar. Disertai kebingungan, aku berusaha untuk berdiri dan menuju ke jendela, namun aku terjatuh kembali di atas tempat tidur. Anne mendengar sebuah suara “gedebuk” kemudian mendapatkan aku di atas lantai. Ketika aku sudah pulih kembali, aku merasa heran dan terpesona akan apa yang telah terjadi… Pada mulanya, aku tidak ingat akan pengalaman itu. Aku terus bertanya, “Apakah aku hidup?”
Dunia agaknya terlihat seperti sebuah impian.

Dalam waktu tiga hari, aku sudah normal kembali, namun berbeda dari pada aku sebelumnya. Ingatanku tentang perjalananku kembali menyusul. Namun sejak aku menemukan bahwa tidak ada sesuatu yang salah dengan manusia yang pernah kujumpai. Sebelum kematianku, aku suka menghakimi orang lain, yakin bahwa manusia itu aneh dan sinting. Detiap orang, terkecuali aku sendiri.

Kira-kira tiga bulan kemudian, seorang kawan mengatakan bahwa sebaiknya aku perlu untuk diperiksa penyakit kankerku.
Demikian aku sekali lagi menjalani berupa pemeriksaan, seperti CTscan dan seterusnya. Aku sendiri merasa sehat. Aku masih ingat akan dokter yang mempelajari pelbagai hasil scan “sebelum” dan “sesudah”. Ia mengatakan, “Aku sekarang tak dapat menemukan tanda-tanda kanker.” “Sebuah mujizat?”, tanyaku. “Tidak”, jawab dia. “Hal-hal seperti itu biasa terjadi…” Ia kelihatannya tidak heran. Namun aku merasa heran. Aku tahu bahwa inilah suatu mujizat.

Pelajaran yang kuperoleh

Aku bertanya kepada Allah, “Agama apakah yang paling bagus dan baik? Manakah yang paling benar?” Allah mengatakan dengan penuh kasih, “Itu tidak penting.” Betapa luar biasanya kasih karunia-Nya. Tidaklah penting kita ikut agama apa. Agama-agama datang dan pergi. Mereka berubah. Agama Budha tidak selalu ada di sini. Demikian pula, agama KAtolik tidak selalu ada. Dan semuanya itu menjadi lebih jelas dan terang. Terang yang lebih besar akan menerangi semua itu. Banyak yang menentang dan melawan, agama yang satu terhadap agama yang lain disertai keyakinan bahwa merekalah yang paling benar.

Ketika Allah berkata, “Itu tidak penting”, aku mengerti bahwa tergantung kepada kita sendiri untuk menjalaninya. Sumber tidak peduli apakah anda seorang Protestan, Budhis atau Yahudi. Setiap dari mereka, merupakan suatu refleksi, sebuah faset dari sesuatu yang lebih besar dan utuh. Pengharapanku adalah, kiranya kita menyadarinya dan berlaku toleran terhadap satu dan yang lain. Itu bukanlah akhir dari agama-agama yang terpisah, melainkan biarlah kita hidup dan membiarkan orang lain juga hidup. Setiap dari kita memiliki pandangan yang berbeda, dan semuanya jika digabung, akan menjadi sebuah gambar yang besar dan utuh.

Aku telah pergi ke seberang sana disertai banyak sekali kekuatiran tentang sampah yang beracun, nuklir, ledakan penduduk dan hutan tropis yang sedang punah.
Kini aku kembali dan menyayangi setiap masalah. Aku sayang kepada sampah nuklir. Aku sayang kepada awan jamur; ini adalah mandala yang paling suci yang kita wujudkan sampai detik ini, sebagai pola dasar. Lebih dari pada agama apapun, atau filosofi yang bagaimanapun, awan jamur yang amat mengerikan itu dengan tiba-tiba telah membawa kita menjadi satu dan mencapai suatu taraf baru akan kesadaran kita.

Dengan pengetahuan bahwa kita dapat menghancurkan planet ini 50 atau 500 kali, pada akhirnya kita menyadari bahwa kita bersama berada di tempat ini. Untuk suatu waktu tertentu, mereka bisa saja meledakkan lebih banyak bom lagi untuk membunuh. Namun kemudian, kita mulai berkata, “Kita tidak memerlukan hal itu lagi.” Sebenarnya kita berada di dunia yang lebih aman dari pada sebelumnya dan kita akan makin lebih aman lagi.

Dengan demikian, aku kembali untuk menyayangi sampah nuklir, karena hal itu membawa kita menjadi satu. Pembalakan hutan tropis akan lebih kurang, dan setelah 50 tahun akan terdapat lebih banyak lagi di planet ini dari pada sebelumnya.
Bila Anda ada di dalam ekologi, berjalanlah terus; anda merupakan bagian dari sistem itu. Lakukanlah tugasmu dengan segala kekuatanmu, namun janganlah menjadi sedih atau putus asa. Bumi sedang di dalam proses untuk menjadi lebih baik dan kita merupakan sel-sel dari bumi itu.

Misteri terbesar dari kehidupan tidak ada hubungannya dengan pikiran. Alam Semesta bukanlah suatu proses intelektual. Memang pikiran bisa membantu, namun hati kita adalah bagian yang lebih bijak dari diri kita. Sejak kembaliku, aku mengalami Terang dengan cara spontan. Aku telah belajar untuk pergi ke sana setiap saat dalam meditasi. Andapun dapat melakukannya. Tubuh adalah Terang yang paling cemerlang. Tubuh adalah alam semesta dari Terang yang luar biasa itu. Kita tidak perlu berhubungan mesra dengan Allah. Allah sebelumnya sudah berhungan mesra dengan kita pada setiap saat.

Selesai

Previous
Next Post »