Aku Memalingkan Diriku dari Allah

Ketika aku berumur empat belas tahun, aku memalingkan diriku dari Tuhan. Aku tidak pernah memikirkan tentang iman, kecuali ketika aku sedang mencemoohkan seseorang yang menganggap dirinya seorang percaya. Aku berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan rasionalisme, kemanusiaan dan filosofi adalah lebih baik. Selama bertahun-tahun aku mempunyai keyakinan yang demikian itu. Kini aku ingin semua itu aku tarik kembali, namun aku tidak dapat.

Setelah menyelesaikan pendidikanku di perguruan tinggi, aku masuk ke dalam angkatan laut dan mulai melihat dunia di luar Amerika Serikat. Terdapat begitu banyak kekerasan, begitu banyak kemiskinan, hal-hal yang membuat orang putus asa dan penderitaan. Aku mulai bertemu dengan orang-orang yang percaya bahwa iman merupakan sesuatu bagian yang amat penting dalam hidup mereka. Aku mulai berfikir dalam diriku sendiri, “Alangkah indahnya, bila seandainya bisa percaya akan sesuatu yang melebihi dari dirinya sendiri, bahkan melebihi dari dunia.

Betapa besar kekuatan mereka yang percaya terhadap “Tuhan”.

Tentu,… aku terlalu intelektual dan terlalu terpelajar serta berpendidikan untuk dapat percaya tentang semua yang serba bodoh itu.

Aku sedang rindu tentang sesuatu yang aku tak dapat menemukan kata-kata untuk memintanya.

Aku adalah seorang peminum berat. Aku rindu akan keluargaku. Aku telah patah hati. Adik tiriku perempuan telah meninggal. Aku telah mengunjungi Yerusalem dan laut Galilea, namun aku tak banyak mengerti apa yang didapatkan oleh para peziarah dan apa yang mereka alami. Aku sebenarnya iri hati, walaupun aku tidak tahu terhadap siapa dan tentang apa. Hal yang paling aku ingat adalah betapa aku merasa seorang diri, berlayar di tengah lautan di atas sebuah kapal perang. Kita pernah berada di Teluk Persia, kemudian di lautan Adriatik selama perang di Yugoslavia. Saya masih ingat pembunuhan-pembunuhan yang mengerikan. Kita mengangkat begitu banyak mayat-mayat dari lautan Adriatik. Lalu kejadian di Rwanda. Rabin telah dibunuh ketika aku berada di Hiafa. Semua biarawan telah di bunuh di Aljazair. Agaknya maut sedang mengelilingi aku. Aku tidak tahu harus berbuat bagaimana. Aku merasa tersesat.

Kemudian, pada suatu senja, aku sedang mengamati tenggelamnya surya di ufuk dari geladak kapal di mana aku bekerja. Aku menemukan diriku sedang merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang besar dalam hidupku. Kemanakah aku sedang berjalan? Mengapa hal-hal itu terjadi dalam dunia ini maupun dalam hidupku? Apa yang aku inginkan dari hidupku? Apa yang aku inginkan dari diriku? Bagaimana aku dapat beriman bila aku tidak percaya segala sesuatu di luar akal sehatku?

Aku merasakan seakan-akan aku melalui dan keluar dari api dan yang tersisa yang hanya segenggam abu.

Aku bertanya kepada Tuhan bahwa aku tidak percaya bahwa Tuhan dapat menolong aku…dan Ia menjawab. Aku tidak mau mengatakan lebih lanjut tentang hal ini, namun dalam kurun waktu sesaat, hidupku telah berubah untuk selamanya.

Kejadian itu sepuluh tahun yang lalu. Perjalanan imanku telah mengalami banyak belokan dan tikungan, namun aku tetap di atas jalan yang benar. Aku telah menemukan begitu banyak hikmah dan perdamaian dalam kisah dan pelajaran dari Yesus, dan aku tahu bahwa Tuhan besertaku, menolongku, memegang tanganku, membimbing aku ketika aku bertumbuh dan berubah.

Tetapi yang paling indah adalah bahwa aku kini mempunyai seorang puteri berumur enam bulan, dan aku tidak dapat menunggu untuk mengajarnya tentang keajaiban dan keindahan Allah. Tuhan telah mengubah hidupku. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang lebih terkejut dari pada aku sendiri yang telah menemukan iman. Ia pun dapat merubah anda!!

Michael J.C., Massachusetts

Previous
Next Post »