Tuhan Berjanji Membebaskanmu

Oleh David Wilkerson

Dalam suatu seremoni yang serba rahasia yang diciptakan oleh Tuhan, nabi Samuel mengurapi Daud menjadi raja dari Israel. Samuel mengatakan kepada anak muda yang takut akan Tuhan ini, “Kamu telah diurapi oleh Tuhan untuk memerintah bangsa ini” Namun, bagi Daud, hal ini merupakan jalan yang amat panjang sebelum ia mencapai tahta kerajaan.

Sebelum janji akan pengurapannya terwujud, hamba Tuhan yang penuh pengabdian dan setia ini akan menghadapi banyak pencobaan dan ujian.

Hanya beberapa waktu kemudian, kita melihat bagaimana Daud terburu-buru melalui bukit-bukit dan jalan-jalan untuk menghindari raja Saul.yang telah bersumpah untuk membunuhnya.

Betapa sahajalah bagi seorang yang takut dan setia terhadap Tuhan seperti Daud ini. Di sini kita melihat seorang hamba yang dipilih oleh Tuhan sendiri dan baru saja diurapi, sedang berlari-lari untuk menyelamatkan nyawanya, diburu-buru, tanpa pertolongan, tanpa rumah dan seorang diri.

Pikiran Daud satu-satunya adalah, “Aku harus keluar dari negeri ini secapatnya. Bila tidak, aku akan mati.”

Ia berlari ke batas negeri yang terdekat, yaitu kota Gath di negeri Filistin, yang dikuasai oleh raja Abimelekh. Ketika ia mendekati benteng musuh itu, ia berusaha untuk melewatinya sebagai seorang pejalan yang biasa dengan harapan bahwa ia tidak akan dikenali. Namun penjaga-penjaga itu saling berbisik, “Bukankah orang itu Daud yang telah membunuh Goliath kita? Bukankah bangsa Israel memujinya dengan nyanyian bahwa ia mampu untuk membunuh sepuluh ribu orang Filistin? Kelihatannya kita sedang akan memperoleh hadiah yang besar. Biarlah kita menangkap dan membawanya ke istana dan mempersembahkannya kepada raja kita.”

Daud sadar bahwa jiwanya berada di dalam bahaya karena musuh mereka, orang Filistin akan menuduhnya sebagai seorang teroris. Kemungkinan besar ia akan dipukuli sampai mati dan akan dijadikan semacam pertunjukkan serta diarak dari kota yang satu ke kota yang lain. Alkitab mengungkapkan, “Daud…menjadi takut sekali terhadap raja Abimelekh” (1Sam 21:12)

Ketika ia dibawa ke istana, Daud menjadi demikian putus asanya sehingga ia memutuskan untuk seolah-olah menjadi gila. Ia mulai merubah-rubah wajahnya, membuat matanya naik ke atas dan mulutnya penuh dengan busa. Para orang Filistin menjadi amat terkejut mengamati pejuang yang dulunya amat perkasa itu menjadi seorang yang hanya dapat mengeluarkan kata-kata yang tidak mempunyai arti dan menjerit-jerit seperti orang kesetanan.

Aku dapat membayangkan bahwa kerumunan orang yang membencinya bubar, ketika Daud melakukan gerak-gerak yang liar, mencakar-cakar pintu dan memukul mereka yang berani mendekatinya.

Pada jaman itu, orang takut akan orang yang gila, karena mereka percaya bahwa mereka memiliki roh-roh yang dapat menyerang mereka.

Seruan yang benar didengar oleh Tuhan dan mereka kemudian dibebaskan dari semua kesukarannya.

Bayangkan keadaan yang kacau balau yang terdapat di dalam istana, ketika Daud dibawa masuk istana. Ketika ia bermain sandiwara di depan raja Abimelekh, nyeloteh dan mengeluarkan air liur, raja Filistin berteriak, “Keluarkan dengan segera orang ini. Ia seorang gila. Mengapa kalian membawa orang yang demikian itu ke dalam rumahku?”

Maka Daud dibawa kembali ke perbatasan Negara dengan diberi peringatan supaya segera pergi dan jangan sekali-kali datang kembali. Setelah dibebaskan, ia bersembunyi di sebuah goa Adullam, dimana ia menulis Mazmur 34 sebagai rasa syukurnya untuk pembebasannya.

Di dalam Mazmur yang begitu mengharukan itu, Daud mengenang kembali seluruh kisah penangkapannya dan bagaimana Tuhan telah membawanya keluar dengan selamat dari pencobaan yang menakutkan itu. “… Malaikat TUHAN berkemah sekeliling orang-orang yang takut akan DIA, lalu meluputkan mereka…. Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.” (Mzm 34:4, 7, 17, 20)

Aku harus mengaku, dari semua 150 Mazmur, yang satu inilah adalah mutlak menjadi kesenanganku. Ia mengisahkan seluruhnya tentang kesetiaan Tuhan untuk membebaskan anak-anak-Nya dari pelbagai pencobaan, kesukaran dan keadaan yang kritis. Daud menyatakan, “Aku mencari Tuhan, dan Ia telah mendengarku dan membebaskanku dari semua yang menakutkan…”

Kadang kala jeritan yang paling seru adalah yang dengan suara yang tidak terdengar.

Aku tahu apa itu “tangisan dalam hati”. Banyak dari doa-doaku yang paling seru dalam kehidupanku – tangisan-tangisanku yang paling mendalam, mematahkan hati dan yang paling memilukan – telah terjadi tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

KAdang-kadang aku disumbat oleh keadaan, sehingga aku tak dapat bicara sedikitpun, karena dibungkam oleh keadaan yang demikian dahsyatnya, melebihi segala sesuatu sehingga aku tak mampu untuk berpikir jernih.

Pada saat-saat tertentu aku hanya dapat duduk dalam kamar kerjaku begitu dicengangkan sehingga aku tak dapat mengatakan sesuatu kepada Tuhan, melainkan sepanjang hatiku menangis menjadi-jadi. “O, Tuhan, tolonglah aku! Aku tidak tahu bagaimana harus berdoa pada saat ini, namun dengarlah tangis di hatiku. Lepaskanlah aku dari keadaan ini.”

Apakah anda pernah mengalami akan hal sedemikian itu? Apakah anda pernah berpikir, “Aku sama sekali tak tahu apa yang sedang terjadi. Aku demikian tenggelam dalam keadaan, demikian dilanda oleh rasa sakit yang amat sangat, sehingga aku tidak dapat menjelaskannya. Tuhan, aku bahkan tidak tahu apa yang kuhendak katakan kepadamu. Apa yang sedang terjadi?”

Aku percaya, inilah yang sedang dialami oleh Daud ketika ia ditawan oleh bangsa Filistin. Ketika ia menulis Mazmur 34, ia membuat pengakuan: “Aku berada dalam suatu keadaan yang demikian gawatnya, sehingga aku berpura-pura menjadi seorang gila. Namun, di dalam hati aku bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan diriku? Bagaimana ini bisa terjadi? Tuhan, tolonglah!”

Dan demikian Daud berkata, “Aku telah mencari Tuhan…orang yang tertindas ini berseru dalam hatinya, tidak tahu apa dan bagaimana untuk berdoa. Dan Tuhan mendengar aku dan melepaskan aku.” Daud berseru dalam hatinya dan Tuhan sungguh setia untuk mendengar setiap isak tangis betapa redup suaranya.

Kadang-kadang, kita hanya dapat berdiri dengan diam dan tahu bahwa Tuhan adalah Pembebas kita.

Dalam tahun 1958 hatiku hancur membaca sebuah surat kabar berita tentang tujuh anak-anak laki yang dituduh membunuh seorang teman yang cacat. Roh Kudus bekerja dengan demikian keras dalam diriku, sehingga aku terdorong keras untuk pergi ke Pengadilan Negeri di New York di mana peradilan sedang berlangsung. Aku memasuki dengan keyakinan bahwa Roh Kudus memerintahkan aku untuk berusaha berbicara dengan anak-anak muda itu.

Ketika peradilan hari itu menjelang ditutup, aku menyadari bahwa anak-anak muda itu akan dikeluarkan dari gedung lewat pintu samping, sehingga pasti tak dapat menjumpai mereka lagi. Karena itu, aku berdiri dan menuju ke depan kursi hakim untuk mohon ijin bisa berbicara dengan para tersangka itu sebelum mereka dikembalikan ke dalam sel mereka.

Dengan segera, para agen polisi mengepung aku dan dengan kasar aku dipaksa keluar dari gedung pengadilan. Lampu-lampu flash muncul disekelilingku dan aku dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan dari para koresponden surat-surat kabar yang sedang mengikuti jalannya peradilan.

Aku hanya dapat berdiri di sana tanpa bersuara, tercengang dalam keadaan yang memalukan. Apa yang akan dikatakan oleh Jemaatku? Orang akan mengira bahwa aku sebagai orang yang tidak waras. Aku begitu naïf!

Di dalam keadaan yang serba kacau balau itu, dalam hati aku berdoa, “Tuhan, aku mengira Engkaulah yang meminta aku pergi ke tempat ini. Apa ada yang salah?”
Dengan sendirinya, aku tak dapat berdoa dengan bersuara, karena para wartawan itu akan berpikir bahwa aku sebenarnya lebih edan daripada kelihatannya. (Aku kelihatannya sudah cukup tolol dengan dasi kupu-kupuku!)

Namun, Tuhan mendengar tangis dari seorang sial pada hari itu, dan Ia telah menjawab tangisanku yang tanpa suara itu mulai dari saat itu. Ternyata, sejak kejadian yang menyedihkan di gedung Pengadilan itu, Pelayanan Anak-anak Jalanan telah dilahirkan dan berkembang luas meliputi seluruh dunia.

Karena itu, aku dengan senang hati membagi dengan kesaksian yang sahaja dari Daud di Mazmur 34: “Karena Tuhan jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersuka cita” (Mzm 34:2)

Pada dasarnya Daud ingin mengatakan, “Aku ingin mengatakan kepada anak-anak Tuhan yang rendah hati di bumi ini, sekarang ini dan di abad-abad yang akan datang. Selama dunia ini masih ada, Tuhan akan melepaskan setiap insan yang meminta pertolongan kepada-Nya dan percaya akan Dia. Dalam kasih setia-Nya yang ajaib, Ia telah membebaskan aku walaupun aku telah bertindak bodoh.”

Inilah yang aku belajar dari Mazmur 34: Bila musuh kita, Iblis datang kepadamu laksana sebuah badai…bila Anda menemukan diri Anda dalam lautan derita yang amat dalam…bila kesukaran-kesukaranmu menggoncangkan pikiranmu…bila keadaaan kacau mengelilingimu dan Anda tak dapat berpikir dengan baik…Anda tidak memerlukan buku doa atau sebuah doktrin untuk menyadarkan dirimu. Dan Andapun tak perlu menyalahkan dirimu karena bertindak sebagai seorang tolol.

Apa yang Anda perlukan bahwa Tuhan yang maha kasih mendengar setiap jeritan yang tulus, yang bersuara keras ataupun yang sama sama sekali tak bersuara, dan Ia pasti akan menjawab.

Bila Ia mau, ia akan mengutus seorang malaikat, bahkan sebuah pasukan para malaikat untuk mengelilingimu dan menyelamatkan Anda dari bahaya. Bahkan, bila Anda telah melakukan sesuatu yang bodoh atau imanmu mengalami kemunduran, Anda hanya perlu berseru lagi kepada Pembebasmu. Ia Tuhan yang maha setia yang selalu bertindak.

bersambung…

Previous
Next Post »