Hidup = Mengalami Masalah

Dalam hidup ini, sering kita mengalami yang namanya masalah. Tak jarang kita bertanya-tanya sendiri kok rasanya tidak putus-putusnya kita dirundung masalah. Lepas masalah yang satu, ehhh masalah yang lain datang. Entah masalah keuangan, masalah pekerjaan, masalah cinta, masalah dengan teman, masalah dengan rekan kerja, dst.

Hal yang sering tragis adalah makin kita berusaha untuk dekat dengan Tuhan, semakin banyak permasalahan datang. Lalu kemudian kita akan bertanya:

"Tuhan kok begini? Saya sudah mengikuti Engkau, tetapi mengapa masalah tidak habis-habis? Orang yang hidupnya seenaknya malah bisa nyaman, enak, tenang, kok saya yang sudah all out melakukan yang terbaik untuk Tuhan kok malah seperti ini?"

Anda tahu, inilah hal-hal yang perlu kita renungkan. Hidup esensinya adalah untuk mengalami. Sebenarnya apakah segala sesuatu itu masalah atau cara pandang kita yang keliru? Mengapa Tuhan mengizinkan adanya masalah dalam kehidupan kita? Mari kita tinjau satu persatu.

1. Masalah bukanlah masalah sampai Anda menyatakan hal tersebut sebagai masalah.

Ini adalah masalah cara pandang dalam hidup. Masalah bisa ditinjau sebagai masalah atau justru dipandang sebagai kesempatan. Kesempatan untuk apa? Untuk lebih maju, dalam segala hal.

Ingat kasus Rasul Paulus. Ia yang tadinya adalah penganiaya umat Tuhan, menjadi berbalik 180 derajat karena dijamah Tuhan. Kalau Paulus terus-menerus menganggap bahwa masa lalunya adalah masalah, ia tidak akan bisa maju. Bagaimana bisa maju?

Saya yakin sangat tidak mudah baginya untuk berkarya. Mengapa? Coba Anda pikirkan, seorang pembunuh umat Tuhan yang sangat bersemangat tiba-tiba secara ekstrim malah mendukung Tuhan dan berkarya bagi Tuhan.

Secara manusiawi saya yakin orang-orang dan rekan-rekannya pasti akan tidak percaya, sangsi, bahkan mungkin takut. Bisa saja kan Paulus hanya berpura-pura bertobat untuk membasmi semua umat Tuhan. Hal ini bisa dibaca dalam Kisah Para Rasul 9:21-22.

Akan tetapi Paulus tidak menganggap hal itu sebagai masalah. Ia terus maju. Kita bisa baca dalam:

Filipi 3:13-14 : Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Luar biasa bukan? Kalau Paulus terus terikat dalam masa lalunya, kita tidak akan pernah membaca namanya dalam Alkitab. Dia menjadi seorang yang menyerahkan hidupnya untuk pekabaran karya keselamatan Kristus dan menjadi seorang rasul yang sangat militan. Sangat mengagumkan! Sesuatu bisa dipandang sebagai masalah atau dipandang sebagai suatu kesempatan untuk maju.

2. Seringkali yang terjadi saat kita fokus pada masalah, hanya itu yang dapat kita lihat.

Bukannya memperoleh solusi yang diharapkan, malah memperumit sesuatu yang harusnya sederhana.

Ilustrasinya begini: kita melihat satu titik di kejauhan yang sejajar letaknya dengan mata kita. Bentuk titik itu adalah bulat. Pada saat kita melihat titik itu dari posisi yang lain dari dekat, ternyata itu bukanlah titik, tetapi bentuk silinder (pipa, tabung, dll). Tetapi karena kita melihat dari jauh dan sejajar dengan penampang alas slinder tersebut, yang kita lihat hanyalah bentuk titik.

Sama dengan saat kita fokus pada masalah, seolah-olah kita melihat kita melihat titik tersebut dari kejauhan. Tidak jelas, berkabut, terdistorsi, ya itulah yang terjadi. Alih-alih melihat pada solusinya dan letak permasalahan itu sesungguhnya (bentuk silinder), kita berfokus pada apa yang kita pikirkan tentang masalah itu (bentuk titik).

Pada saat kita mengarahkan pandangan pada Tuhan (analogi: saat kita mendekat untuk melihat titik tersebut lebih jelas) kita bisa melihat permasalahan tersebut secara lebih proporsional dan masuk akal, lebih obyektif dan berorientasi pada solusinya.

Tuhan sungguh-sungguh ingin kita menang atas persoalan dan Ia menjadi penghiburan bagi orang-orang yang dalam masalah.

Nahum 1:7: TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya.

Arahkan pandangan kita senantiasa pada Tuhan.

Mazmur 26:3: Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.

3. Masalah digunakan Tuhan untuk mendekatkan setiap anaknya pada Dia.

Ya, seringkali saat kondisi tenang-tenang atau baik-baik saja, kita jadi lupa pada Tuhan dan mengandalkan kemampuan diri sendiri. Lihat pada Lukas 8:22-25 mengenai kisah angin ribut. Para murid Kristus juga mengalami hal ini.

Mereka yang mayoritas adalah nelayan mengemudikan perahu dengan percaya diri saat kondisi baik-baik saja karena memang hal itulah yang mereka kerjakan sehari-hari. Mengandalkan kemampuan, pengalaman, dan kehebatan pribadi. Dalam cerita di Lukas 8:22-25, Tuhan dibuat tertidur.

Baru saat badai datang, para murid panik dan membangunkan Yesus. Mereka sadar, badai adalah suatu masalah besar yang tidak mungkin mereka atasi sendiri. Tuhan terbangun dan seketika meredakan badai itu.

Ya hal ini sering kita lakukan, baik sadar maupun tidak sadar. Saat kita melakukan hal itu, kita mengabaikan Tuhan. Kalau menggunakan bahasa gaul yang sering digunakan sekarang ini, mungkin Tuhan akan berkata begini: "Emangnya enak dicuekin?"

Ia adalah Allah yang sosial, Allah yang suka akan relasi, suka akan hubungan. Ia menciptakan manusia karena Ia suka menjalin hubungan dengan kita. Begitu besar cinta-Nya pada kita sampai Ia menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal bagi kita.

Yohanes 3:16 : Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Pantaskah kita mengabaikan Tuhan yang sudah begitu mengasihi kita? Saya yakin kita semua tahu jawabannya.


4. Masalah adalah didikan dan gemblengan Tuhan.

Dalam Ibrani 12:5-6 : Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak:

"Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."

Ya, jika kita telah setia dan melakukan yang terbaik bagi Tuhan lalu masalah datang bertubi-tubi, ini berarti kita harus bersyukur. Mengapa? Karena Tuhan ingin kita lebih naik lagi, ingin kita naik tingkat. Seperti saat kita sekolah, kita tidak ingin terus di kelas satu SD terus bukan? Ya itulah yang terjadi. Masalah diizinkan Tuhan untuk menggembleng kita, menempa kita, membuat kita lebih maju lagi.

Bersyukurlah bila memang kita diberi banyak masalah, banyak benturan, banyak gesekan; karena itu berarti Tuhan ingin memurnikan kita. Banyak orang yang tidak menyenangkan? Bersukacitalah! Kita akan dibuat lebih baik lagi dengan adanya masalah.

Amsal 27:17 : Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

5. Masalah merupakan proses pemurnian hati dan motivasi kita.

Yesaya 48:10: Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan.

Seringkali kita melakukan segala sesuatu sepertinya untuk Tuhan, tetapi padahal untuk diri kita sendiri. Bisa juga kita melakukan sesuatu dengan tidak sungguh-sungguh, Tuhan ingin kita lebih lagi dalam mengasihi Dia, dalam melayani Dia.

Ya seperti perak dan emas yang dimurnikan supaya memiliki nilai yang tinggi, demikian juga kita di matanya. Kita dimurnikan supaya layak di mata-Nya. Pemurnian pertama malah dilakukan-Nya dengan darah-Nya sendiri, lewat pengorbanan Kristus di kayu salib. Pemurnian selanjutnya dilakukan-Nya dengan permasalahan hidup.

Sungguh kita harus bersyukur karena apapun juga yang terjadi dalam hidup kita, kita tidak pernah sendiri. Tangannya selalu menopang kita. Puji Tuhan.

Yesaya 59:1: Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;

Jadi ada masalah? It's OK. Hidup = mengalami masalah!

Previous
Next Post »