Tulang Iga Yang Hilang

Seorang gadis yang jatuh cinta bertanya kepada teman lelakinya: "Katakanlah, siapakah yang engkau paling kasihi di dunia ini?" "Kamu, tentu."

"Dalam hatimu, siapa aku ini bagimu?"

Pemuda itu berpikir sejenak dan memandang dengan dalam-dalam mata gadisnya serta mengatakan, "Kamu adalah tulang igaku. Di dalam alkitab, dikatakan bahwa mengamati Adam kesepian, maka ketika Adam tidur, Tuhan mengambil salah sebuah tulang iga dan menciptakan Hawa. Sejak itu, setiap laki-laki mencari tulang iganya yang hilang. Hanya bila ia telah menemukan perempuan untuk menjadi teman hidupnya, ia tidak lagi merasakan rasa sakit di dalam hatinya yang tidak hilang-hilang."

Setelah mereka menikah, pasangan ini untuk beberapa waktu mengalami hidup yang manis dan bahagia. Namun, kemudian pasangan yang muda ini mulai merenggang hubungannya. Ini disebabkan oleh kesibukan pekerjaan mereka dan permasalahan hidup sehari-hari yang tidak ada habisnya. Hidup mereka sebagai suami isteri menjadi tawar dan membosankan. Semua tantangan hidup berupa realitas kehidupan yang keras dan berat, mulai menggerogoti cita-cita dan impian serta mengganggu kasih sayang mereka satu dengan yang lain.

Pasangan suami isteri itu mulai cekcok dan setiap percekcokan menjadi semakin panas.

Pada suatu hari setelah mereka bertengkar, si perempuan lari keluar rumah. Dari seberang jalan perempuan itu berteriak, "Kamu tidak mengasihi aku lagi!". Si pemuda membenci sifat kekanak-kanakannya dan secara impulsive ia melontarkan, "Mungkin kita melakukan kesalahan untuk hidup bersama! Kamu ternyata bukan tulang igaku yang hilang!"

Tiba-tiba perempuan itu membisu dan berdiri di tempat itu nutuk waktu yang lama. Lelaki itu menyesal melontarkan apa yang telah terlanjur diucapkan, namun, kata-kata yang dikeluarkan dari mulutnya adalah seperti membuang air ia tidak mungkin utnuk ditarik kembali.

Dengan menangis, perempuan itu pulang untuk mengemasi barang-barangnya dan mengambil keputusan untuk berpisah.

Sebelum ia meninggalkan rumah, wanita itu berkata, "Bila aku memang bukan tulang igamu yang hilang, maka biarlah aku pergi." Ia melanjutkan, "Dengan cara begini, aku akan merasakannya tidak begitu berat. Biarlah kita menempuh perjalanan kita secara terpisah dan biarlah kita masing-masing mencari teman hidup kita."

Lima tahun telah lewat. Lelaki itu tidak mau menikah lagi namun diam-diam dengan tidak langsung ia mencoba untuk mengetahui akan jalan hidup bekas isterinya itu. Si perempuan sementara telah meninggalkan negerinya dan telah kembali. Ia telah menikah dengan seorang asing namun kemudian bercerai. Ia merasa amat sedih bahwa bekas kekasihnya itu tidak mau menunggu akan dia. Di dalam kegelapan dan keheningan malam hari dia merasakan sakit yang tak mau hilang-hilang dalam hatinya. Ia tidak pernah mengaku bahwa sebenarnya ia amat kehilangan bekas isterinya itu.

Pada suatu hari mereka akhirnya bertemu di bandara udara di sebuah tempat dimana terdapat banyak pertemuan kembali maupun perpisahan antarmanusia.

Ia sedang akan pergi untuk keperluan bisnis. Wanita berdiri seorang diri di sana dengan hanya dipisahkan oleh sebuah pintu keamanan.

L : "Bagaimana keadaanmu?"
W : "Aku baik-baik saja. Apakah kamu sudah mendapatkan tulang igamu yang hilang?"
L : "Tidak."
W : "Aku akan terbang ke New York dengan pesawat berikutnya"
L : "Aku sudah kembali 2 minggu lalu."
W : "Teleponlah aku bila aku kembali. Kamu kan tau nomor teleponku. Tidak ada sesuatu yang berubah!"

Dengan disertai sebuah senyuman, ia berpaling dan melambaikan tangannya untuk berpisah.

Seminggu kemudian, terdengar kabar bahwa perempuan itu telah mati. Ia telah menjadi salah satu korban di dalam peristiwa yang menggemparkan seluruh dunia.

Tengah malam, lagi-lagi, laki-laki itu menyulut rokoknya. Dan seperti sebelumnya, ia merasakan sakit yang tak mau hilang-hilang dalam hatinya. Akhirnya ia menjadi sadar, bahwa bekas isterinyalah yang merupakan tulang iganya yang hilang yang ia telah patahkan di dalam kecerobohannya.

NB :
Kadang2, manusia mengatakan sesuatu dalam saat2 yang dipenuhi dengan kemarahan dan emosi. Seringkali akibatnya justru mendatangkan malapetaka dan merusak. Kita melampiaskan kebingungan dan kejengkelan kita kebanyakan kali kepada mereka yang justru kita kasihi. Dan kendatipun kita tahu untuk "memikir 2 kali dan bertindak bijak" hal ini sering lebih mudah untuk dikatakan dari pada diperbuat.
Previous
Next Post »