Iman & Kerendahan Hati

(Yes 2:1-5/Yes 4:2-6; Mzm 122:1-4a; Matius 8:5-11)
( - by: TIM, Bk.RH dan PI "Percikan Hati"/Des'06 - )

Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, "Mari kita pergi ke rumah Tuhan".
- jika Anda kurang memiliki sahabat, telitilah jangan sampai Anda terlalu tinggi hati! -

"Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh."
[Matius 8:8a]

Ada banyak orang yang mengalami kesuksesan dalam berbagai bidang. Orang lulus belajar dengan prestasi yang memuaskan, maju dalam bisnis, sehingga mendapatkan banyak keuntungan material. Orang dapat membeli mobil mewah, membangun rumah mewah, memperoleh kedudukan dan jabatan sosial yang membuat namanya menjadi terkenal. Pada zaman kita ini ada banyak orang mengalami kesuksesan, tetapi tidak banyak yang bisa "rendah hati di hadapan Tuhan".

Kerendahan hati adalah ciri khas orang beriman yang selalu merasa, bahwa "semua milik dan pendapatannya" berasal dari TUHAN, dan bukan karena kehebatan atau kemampuannya. Orang yang rendah hati akan sangat berjiwa sosial. Ia tidak merasa rugi bahkan sangat berbahagia bila "memberi dan berkorban" demi orang lain.

Yesus memuji Iman perwira kafir dari Kapernaum yang "rendah hati", yang datang mencari, menyembah dan, lebih dari itu, "percaya pada Yesus". Ia tidak mengetahui banyak tentang Yesus, tentang Allah Orang Yahudi, apalagi tentang Hukum Taurat. Tetapi secara nyata ia menunjukkan, bahwa "Imannya yang matang". Ia tidak membanggakan statusnya sebagai seorang Romawi. Justru dengan segala "kerendahan hati" ia memohon kepada Yesus untuk penyembuhan hambanya. Karena itu Yesus menjawab: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel." [Matius 8:8-10].

Saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus, kerendahan hati adalah tanda dari ciri khas seorang beriman. Bagaimana mungkin kita mengatakan seseorang itu beriman, tetapi nyatanya sombong dan tinggi hati? Bagaimana kita mengatakan seseorang itu beriman, tetapi meremehkan orang lain?! Ketahuilah, bahwa beriman itu bukan soal kita ke gereja atau tahu berdoa. Beriman itu adalah sebuah kesaksian hidup akan kerendahan hati, kebaikan hati dan cinta pada Tuhan dan sesama.

Marilah kita berdoa:
Ya Tuhan, semoga aku semakin menjadi orang beriman dalam kata, sikap dan perbuatan. Amin.

Niatku:
Aku mau berusaha untuk bersikap rendah hati dan menghargai sesamaku.

Tuhan memberkati!
Previous
Next Post »