Bersyukur

Sebagian orang terbiasa bersyukur. Sebagian orang hanya bersyukur untuk hal-hal besar. Sebagian lagi merasa tidak biasa untuk bersyukur. Termasuk dalam kategori manakah diri kita?

Ketika segala sesuatunya berjalan baik, tidak sulit untuk bersyukur. Ketika badai menghadang dan angin menerjang dalam kehidupan, mulai terasa sulit untuk tetap bisa bersyukur. Jadi, kapan kita bisa bersyukur? Tak ada hal yang tak mungkin, jika kita mau belajar dan berusaha. Mulailah membangun kebiasaan untuk mengucap syukur untuk setiap detil yang terjadi dalam hidup kita. Mulailah dengan hal-hal paling kecil dan sederhana. Satu hari pasti, kita akan menyadari kalau kita telah terbiasa untuk bersyukur.

God bless.

in Christ,
Jessica

------------------------------------------------------------------------------------

GUNAKAN RASA SYUKUR UNTUK MENERIMA LEBIH BANYAK BERKAT

Oma comel Gladys adalah wanita tua paling pemarah di kota. Suatu hari, ia mengumumkan pada seluruh keluarganya, “Saya ingin seekor piaraan.  Piaraan itu harus sempurna!”

Ampun, keluarganya pasti mengalami kesulitan mencarikan seekor piaraan baginya. Seorang keponakan laki-laki memberinya seekor kucing.

“Terlalu manja,” keluhnya dan mengembalikannya. Seorang keponakan perempuan memberinya seekor kura-kura.

“Terlalu lamban,” keluhnya dan mengembalikannya. Seorang cucu perempuan memberinya seekor kakaktua. Setelah beberapa hari, ia mengembalikannya dan berkata, “Ia selalu mengeluh!”

Akhirnya, mereka kegirangan ketika mereka menemukan seekor anjing istimewa yang sangat pintar.  Pemilik toko bahkan mengatakan pada mereka, “Saya bahkan tidak tahu seberapa pintarnya anjing ini!  Ia selalu memberi kejutan pada saya setiap hari.”  Seluruh keluarga begitu gembira, mereka memberkan anjing itu pada Oma Gladys, berharap anjing itu dapat memberi kesenangan dalam kehidupan wanita tua itu. Hari berikutnya, keluarganya melihat Oma Gladys bermain catur bersama anjingnya!

Mereka begitu terkejut, dan berkata, “Bibi Gladys!  Itu pastilah anjing terpintar di seluruh dunia!”

Dia menyeringai, “Nah..., saya akan mengembalikannya juga pada kalian.  Ia sudah kalah tiga kali dalam lima permainan terakhir.”

Apapun yang kamu lakukan, Oma ini tidak pernah merasa senang. Pilihan ada di tangan kita: Bersyukur atau terus mengeluh. Saya percaya pilihan ini bahkan mempengaruhi kekayaan Anda…

PERTANYAAN: APAKAH ANDA KAYA?

Kisah di atas hanyalah fiksi belaka. Saya akan ceritakan sebuah kisah nyata sekarang. Wanita ini adalah seorang multi-jutawan. Namun sangat dan sama sekali miskin. Jika Anda bingung, teruslah membaca. Wanita kaya ini mempunyai 5 pembantu, 1 tukang kebun, dan 2 supir.

“Pembantu #1 adalah asisten pribadi saya,” jelasnya pada saya suatu hari.

“Saya tidak dapat hidup tanpanya.  Ia memegang handphone saya. Ia menyusun anggaran untuk rumah.  Yang lebih penting, ia memijit kaki saya setiap malam. Pembantu #2 membersihkan rumah.  Pembantu #3 bertugas cuci gosok. Pembantu #4 memasak.  Dan pembantu #5 adalah asisten pembantu #1.”

Kebetulan, saya bertemu dengannya suatu pagi dan ia menyerocos, “Saudara Bo, saya merasa sangat stres!  Hidup ini begitu sulit! Mengapa Tuhan melakukan ini pada saya?”

“Mengapa? Apa yang terjadi?”, saya bertanya. Saya membayangkan yang  terburuk.

“Salah satu pembantu saya sedang libur,” jeritnya, “dan ia sudah pergi selama seminggu hingga hari ini.  Jadi dari lima pembantu, sekarang saya hanya punya empat.  Ya Tuhan, saya tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan!  Hidup saya jadi berantakan.”

Wow.  Wanita malang.  Maksud saya, mempunyai empat pembantu adalah sebuah tragedi, bukan? Semestinya tak seorang pun melewati pencobaan seperti ini.  Membuat Anda ingin menghiburnya. Dengan beberapa tamparan di kepala. Saya berharap saya dapat mengatakan bahwa saya melebih-lebihkan kisah ini untuk membuat Anda tertawa.

Maaf.  Ini sebuah kisah nyata.

DENGAN APA KEKAYAAN DIUKUR?

Sekarang saya sangat yakin. Kekayaan bukanlah uang. Kekayaan bukanlah mobil-mobil yang Anda kendarai atau rumah-rumah yang Anda miliki. Kekayaan bukanlah perhiasan Anda, saham, atau simpanan Anda di bank. Sekarang saya percaya kalau kekayaan adalah suatu emosi. Kekayaan adalah suatu perasaan di dalam hati. Lebih tepatnya, kekayaan adalah suatu pandangan, suatu sikap, suatu kepercayaan.

Dan ukuran kekayaan yang paling nyata adalah rasa syukur. Teman saya di atas, meskipun seorang multi-jutawan, tapi sangat miskin karena ia memiliki rasa syukur yang sangat sedikit. Tiadanya rasa syukur berfokus pada apa yang ia tidak miliki; Rasa syukur berfokus pada apa yang Anda miliki. Saya sudah mengerti hal ini sejak dulu…

POINT-POINT MILIK ALING DORING

Ada satu masa dalam hidup saya dimana saya hanya memiliki sedikit uang. Pada hari-hari dalam masa itu, saya tidak mampu untuk makan di Jollibee. Karena itu setiap hari, saya pergi ke toko kecil di sudut ini yang disebut Point-Point.

Dalam kamus kita, seperti rumah makan cepat saji dimana kita tinggal menunjuk menu yang kita inginkan yang sudah terpajang di lemari kaca. Sebagai ganti kursi, di sini tersedia bangku kayu panjang yang kasar. Sebagai ganti meja, di sini tersedia tripleks yang dilapisi plastik. Sebagai ganti AC, di sini ada wanita berbadan besar bernama Aling Doring yang, dengan sebuah kipas tradisional di tangannya, mengipasi saya dan menepuk pasukan lalat di sekeliling saya. Ia juga
menyediakan hiburan luar biasa bagi kami – menceritakan pada kami tentang gosip selebritis dari tabloid tertentu. (Oke, sekarang Anda tahu di belahan dunia mana letak tempat ini.)

Point-Point memberi saya semangkuk penuh sup, semangkuk nasi, beberapa potong sayur pare, dan 3 potong daging babi – semua hanya seharga 10 Peso (= Rp 2500,-).  Itu sudah lama sekali. Ketika saya masih muda dan tampan. (Sekarang, saya hanya tampan). Namun setiap kali saya makan di sana, saya merasa gembira. Saya merasa seperti seorang raja. Saya merasa sangat kaya! Bayangkan, saya bisa makan!  Begitu banyak orang – 30% dari penduduk dunia – sedang kelaparan.

Karena itu saya menikmati makanan lezat tersebut.  Saya menikmati gurauan Aling Doring.  Saya menikmati para pengemudi jeepney (transportasi umum seperti mikrolet di Jakarta) yang makan bersama saya – bau mereka, sendawa mereka, dan tawa mereka.  Sangat indah. Dan saya selalu bersyukur pada Tuhan untuk semuanya. Sekarang, saya punya sedikit lebih banyak uang.  Kebanyakan makan siang bisnis saya sekarang dilakukan di hotel dan restoran bintang lima. Saya telah mengalami peningkatan.

Namun jauh dalam lubuk hati, tak ada yang berubah. Saya tetap merasa seperti seorang raja. Saya tetap merasa kaya. Oh ya, dibandingkan dengan para pembimbing finansial saya yang jutawan, saya hanya memiliki remah-remah. Tapi dalam hati saya, saya telah menjadi seorang jutawan. (Saya harap Anda juga)

Ingatlah kebenaran yang menguatkan ini: Kekayaan Anda sama dengan Rasa Syukur Anda. Dan Rasa Syukur Anda sama dengan Kekayaan Anda. Tapi rasa syukur macam apa yang Anda miliki? Mari kita cari tahu…

3 MACAM RASA SYUKUR

Ada tiga tingkatan rasa syukur:
-  Rasa syukur yang dangkal
-  Rasa syukur yang sederhana
-  Rasa syukur yang kudus

1.  Rasa Syukur Yang Dangkal

Ini terjadi ketika Anda bersyukur untuk hal-hal yang besar saja. Anda menang lotere. Anda mendapat sebuah mobil baru. Anda berhasil lulus ujian setelah 9 kali mengulang. Puteri Anda akhirnya menikah pada usia 45. Visa Anda disetujui setelah menunggu selama 16 tahun. Suami Anda yang tidak setia, pengangguran, peminum akhirnya berubah. Atau suami Anda yang tidak setia, pengangguran, peminum akhirnya meninggal. Apapun yang terjadi lebih dulu. Maksud saya, bagaimana mungkin Anda tidak mengucap syukur? Setiap orang mulai dengan Rasa Syukur yang Dangkal. Saya menyebutnya dangkal karena perasaan syukur ini akan lebih cepat berlalu. Rasa Syukur yang Dangkal baik. Namun jika Anda ingin sungguh-sungguh bahagia, Anda perlu naik tingkat ke bentuk rasa syukur yang lebih dalam…

2.  Rasa Syukur Yang Sederhana

Dalam Rasa Syukur yang Sederahana, Anda bersyukur bahkan untuk hal-hal kecil dalam hidup. Untuk atap yang melindungi kepala Anda, untuk makanan yang bersisa di meja Anda, untuk keluarga yang agak memusingkan di sekeliling Anda.  Hal-hal biasa yang Anda terima. Ingat kalimat terkenal ini? “Saya pernah merasa sedih karena tidak punya sepatu, hingga saya bertemu dengan seorang pria yang tidak mempunyai kaki.”  -  NN.

Suatu hari, seorang teman mengeluh tentang kerontokan rambut yang dialaminya. Saya mengatakan padanya untuk berpikir positif: rambutnya bukan rontok, tapi dahinya yang bertambah lebar.  Ia tidak percaya pada saya dan menjadi semakin depresi. Karena itu saya mengirimkan sms padanya kalimat di atas dengan versi yang sedikit berbeda : Saya pernah merasa sedih karena tidak punya rambut hingga saya bertemu seorang pria yang tidak mempunyai kepala. Saya rasa itu menyadarkannya. Jika Anda harus memilih antara kebotakan dan dipenggal, mana yang akan Anda pilih? Sekarang, ia membuat kepalanya mengkilap dan memanggil dirinya sendiri Bruce Willis. Saya membaca doa ibu ini di suatu tempat dan memutuskan untuk menuliskannya di sini bagi semua ibu luar biasa yang membaca blog saya. Terima kasih Tuhan untuk tempat cuci piring yang kotor ini; yang menandakan kami punya banyak makanan untuk dimakan. Terima kasih untuk cucian yang kotor dan bau ini; kami punya banyak pakaian bagus untuk dipakai. Terima kasih untuk kulkas yang mengotori tangan ini yang sangat perlu dicairkan; ia telah melayani kami dengan setia selama bertahun-tahun. Ia dipenuhi dengan minuman dingin dan makanan sisa yang cukup untuk dua atau tiga kali makan. Terima kasih, Tuhan, untuk oven ini yang betul-betul harus dibersihkan hari ini. Ia telah memanggang begitu banyak makanan selama bertahun-tahun. Terima kasih, Tuhan, bahkan untuk pintu yang harus dibanting itu. Anak-anak saya sehat dan bisa berlarian dan bermain. Tuhan, kehadiran semua tugas ini menanti saya mengatakan Engkau telah memberkati keluarga saya dengan berlimpah. Saya harus melakukan semua tugas ini dengan riang dan saya harus melakukannya dengan penuh syukur. Tapi tahukah Anda bahwa ada sesuatu yang lebih luar biasa daripada Rasa Syukur yang Sederhana?

3.  Rasa Syukur Yang Kudus

Dalam Rasa Syukur yang Kudus, Anda bersyukur untuk hidup itu sendiri. Anda bersyukur bahwa Anda hidup. Anda bersyukur bahwa Anda ada. Anda bersyukur bahwa Anda bernafas! Anda bersyukur untuk setiap petualangan dalam hidup sehari-hari, dengan semua naik-turunnya, tinggi-rendahnya, dan lika-likunya. Rasa syukur macam ini tidak lagi tergantung pada situasi. Dan ada sebuah perbedaan besar antara tahu Anda perlu bersyukur, dan kenyataan memiliki setiap sel dalam tubuh Anda yang berseru, “Terima kasih!”

Ini Rasa Syukur yang Kudus. Hal ini merupakan salah satu hal termanis di dunia. Tak satupun dapat menyentuh Anda. Anda merasa damai. Ketika Anda memiliki Rasa Syukur yang Sederhana – dan khususnya Rasa Syukur yang Kudus – Anda menerima begitu banyak berkat. Mengapa? Karena ketika Anda menjadi seorang yang bersyukur, Anda juga menjadi seorang……INVERSE PARANOID! Saya membaca ini dari Jack Canfiled dalam bukunya, Success Principles, dan dikutip oleh banyak penulis lain – dan saya pikir ini luar biasa. Apa arti seorang Inverse Paranoid? Anda tahu arti Paranoid adalah: seorang yang takut atau cemas. Ia pikir kalau dunia ada di luar sana untuk menangkapnya. Untuk mencuri darinya. Untuk menyakitinya. Untuk menjatuhkannya. Dan, seorang Inverse Paranoid adalah seorang yang bahagia yang percaya bahwa dunia berkonspirasi untuk memberkatinya. Untuk melayaninya. Untuk mencintainya!

Seorang Inverse Paranoid mengharapkan yang terbaik dari hidup. Seorang Inverse Paranoid mengharapkan hal-hal besar akan terjadi. Seorang Inverse Paranoid mengharapkan bahwa ia akan berjalan di ladang berkat setiap hari. Seorang Inverse Paranoid percaya bahwa dunia sedang berencana untuk memenuhi impian-impiannya!

Seorang Inverse Paranoid memandang hal-hal buruk hanya sebagai berkat yang tersamar. Seorang Inverse Paranoid terbangun setiap pagi dan berkata, “Saya berharap diberkati hari ini!  Yipiiieee…!”

APAKAH ANDA SEORANG AHLI BERKAT ATAU SEORANG AHLI MASALAH?

Mengapa orang-orang yang bersyukur menjadi Inverse Paranoid? Alasan pertama : Rasa syukur adalah salah satu bentuk cinta yang paling kuat. Dan Anda tahu bahwa cinta mengalahkan semua ketakutan. Paranoia adalah ketakutan. Karena itu rasa syukur mengusir ketakutan dalam hidup Anda. Ini adalah alasan kedua: Karena orang-orang yang bersyukur berfokus pada berkat-berkat dalam hidup mereka, mereka menjadi Ahli-ahli Berkat.  Apa maksudnya?  Mereka tahu bagaimana bentuk, suara, bau, dan rasa sebuah berkat.  Karena itu, ketika mereka membuka mata mereka dan melihat sekeliling hidup mereka, mereka akan mencium sebuah berkat yang satu mil jauhnya!  Mereka akan menghampiri dan meraihnya. Orang-orang yang tidak bersyukur adalah Ahli-ahli Masalah. Ketika mereka melihat sekeliling hidup mereka, mereka tidak dapat melihat berkat di depan mata mereka karena mereka tidak tahu bagaimana rupanya. Saya harap Anda menjadi seorang Inverse Paranoid, seorang Ahli Berkat sesegera mungkin. Percayalah, ini sangat mengasikkan! Semoga impian Anda menjadi kenyataan,

Bo Sanchez

Previous
Next Post »