Cina Bagi Kristus Di Era Pasca Revolusi

Sebagaimana kita ketahui, orang Kristen di Cina ditangkap, disiksa dan dibunuh karena iman mereka, tetapi lebih dari 40 tahun setelah revolusi budaya, orang Kristen di Cina semakin berani membagikan iman mereka di hadapan publik.

Sebagai contoh, di berbagai pelosok negeri Cina, pengusaha Kristen secara terbuka mendedikasikan perusahaan dan juga hidup mereka untuk menyebarkan Injil - walaupun mereka harus menghadapi resiko tindakan keras dari pemerintah.

Beberapa blok dari lapangan Tiananmen yang terkenal di Beijing, pada sebuah toko yang terletak di Jalan Liullichang nomor 37, Liu Xixian dan Chen Zejin melakukan apa yang mereka ingin lakukan, meskipun hal tersebut bukanlah tujuan awal usaha mereka.

"Impian kami adalah membuka toko dan menghasilkan sebanyak mungkin uang," ujar Liu Xixian. "Tapi segera setelah kami membuka toko kami, pandangan kami mulai berubah. Kami memiliki visi yang baru."

Pasangan tersebut beranjak dari menjual mebel antik dan lukisan menjadi pemilik dari salah satu toko Kristen yang terbesar dan paling terkenal di Beijing.

"Saya dan suami memutuskan bahwa bisnis kami akan menjadi sebuah pelayanan," ujar Xixian menjelaskan. "Sebuah tempat di mana kami dapat membagikan iman kami di dalam Yesus Kristus secara terang-terangan."

Saat ini mereka menjual semua jenis pernak-pernik Kristen dari buku, hiasan dinding, kerajinan tangan sampai berbagai karya seni Cina.

"Kami menggabungkan budaya Cina tradisional dengan tema yang kuat dari Alkitab. Kami memiliki ayat-ayat Alkitab di mana-mana," ujarnya. "Saya ingin mereka yang datang ke toko kami tahu dan belajar tentang Tuhan. Saya ingin mereka tertarik kepada Yesus Kristus."

Keluarga ini telah membuka toko mereka di sepanjang pasar antik yang paling terkenal di Beijing semenjak tahun 1994 dan sejak saat itu bisnis mereka terus berkembang. Tapi hari ini mereka memiliki pelayanan yang lain - sebuah pelayanan yang dapat ditemukan di balik layar.

Mereka mengatakan bahwa ini adalah pelayanan mereka yang ‘sebenarnya'. Terselip di sudut toko, sebuah kelompok kecil dari orang Kristen baru sedang belajar begaimana mengembangkan diri secara ekonomi di era baru Cina.

Selama beberapa jam setiap minggu, pria dan wanita berkumpul untuk menyembah, berdoa dan belajar bagaimana mengelola keuangan mereka dari perspektif Alkitab.

"Kami mengajarkan kepada mereka betapa pentingnya menjadi pelayan yang baik atas uang mereka," ujar Liu. "Tuhan ingin kita jujur dan etis dengan keuangan kita. Jika tidak, Tuhan tidak akan memberkati kita dan pada gilirannya kita juga tidak bisa menjadi berkat bagi bangsa ini."

Melintasi kota, di sisi barat Beijing, pengusaha lainnya Joshua Zhou, baru sekarang menikmati buah dari berkat Tuhan. Tapi tidak selalu seperti itu.

"Dulu saya suka berbohong, menipu dan mencuri. Saya membuat transaksi gelap dan menyogok orang setiap saat. Saya menghasilkan uang, tapi juga kehilangan banyak uang," ujarnya.

Beberapa tahun yang lalu, Zhou hidup layaknya seorang milyuner, tetapi di sisi gelap dari keajaiban ekonomi Cina.

"Saya minum, mengkonsumsi obat-obatan, berjudi dan mengkhianati istri saya," kenangnya. "Bisnis saya sedang berkembang, tapi sebagian besar itu karena saya tidak membayar pajak."

Dalam kelimpahan hidupnya, tetap saja Zhou merasakan kehampaan di dalam hidupnya.

"Saya merasa sangat hampa. Tak satupun dari kesenangan duniawi ini dapat memuaskan saya," kenangnya. "Jadi sayapun mencoba untuk menjadi orang yang beragama, tapi itupun tidak dapat memuaskan saya. Saya bahkan mempekerjakan seorang pemimpin spiritual untuk selalu berdoa bagi saya."

"Hal itu tidak berhasil. Saya mulai putus asa," tambahnya. "Pernikahan saya berantakan. Saya ingin bunuh diri."

Kemudian pada suatu hari, seorang teman mengundangnya datang ke gereja.

"Saat itulah untuk pertama kalinya saya mendengar tentang Yesus," ujar Zhou. "Hari itu Yesus menyelamatkan saya, pernikahan saya dan bisnis saya."

Zhou menyerahkan perusahaan farmasinya yang bernilai multi-juta dolar dan menutupnya.

"Saya memang tidak menghasilkan uang sebanyak dulu, tapi paling tidak saya tidak lagi berbuat curang. Saya juga membayar pajak," ujarnya. "Semua yang saya lakukan saat ini adalah menceritakan kepada orang lain apa yang telah Yesus lakukan bagi saya. Itulah tujuan dari perusahaan saya saat ini."

Zhou memiliki lebih dari 200 pekerja. Sebagian besar dari mereka telah menjadi orang Kristen karena kesaksiannya.

Para staffnya berkumpul setiap pagi untuk berdoa dan menyembah di ruang rapat perusahaan. Zhou dan juga istrinya, Grace, mengadakan studi Alkitab mingguan.

"Saya percaya bahwa bangsa yang percaya kepada Tuhan adalah bangsa yang diberkati," ujarnya. "Kami ingin menanamkan nilai-nilai kerajaan surga pada orang-orang kami dan juga di dalam bisnis kami. Itulah yang sedang kami doakan dan kami persiapkan saat ini."

Masih banyak Zhou lainnya yang merupakan sebagian kecil dari kelompok yang bertumbuh dan menjadi pengusaha bisnis Kristen generasi pertama, dimana mereka bertemu secara teratur di seantero negeri untuk bertumbuh dan berkembang secara spiritual.

Benny Yang dari pelatihan LDI membantu mengkoordinasi kelompok kecil ini.

"Kami saling mendorong satu sama lain, saling mendoakan dan belajar Alkitab bersama-sama," ujarnya.

Yang mengatakan begitu banyak pria dan wanita Kristen yang saat ini mengubah budaya bisnisnya dengan menerapkan prinsip-prinsip Alkitab seperti kebenaran dan integritas ke dalam dunia kerja.

"Karena hal ini, saya pikir seluruh komunitas bisnis akan berubah," ujarnya. "Ketika Anda melihat tingkat integritas, Anda akan melihat cara mereka menjalankan bisnis sedang berubah."

Sebuah perubahan yang dibawa oleh orang-orang seperti Chen dan Zhou memberi harapan bahwa suatu hari nanti dapat mengubah bangsa mereka.

"Saya berjalan dalam lembah bayang-bayang kematian. Saya tahu rasanya hampa dan tanpa pengharapan," ujar Zhou. "Tapi saya juga tahu bagaimana rasanya mengalami kebebasan dan memiliki pengharapan. Yesus adalah jawaban dan saya ingin memberitahu setiap orang tentang Yesus."

Sumber : Jawaban.com

Previous
Next Post »