Pelajaran Berharga

Ini kisah kecil saat gw baru aja pulang 
dari Anggrek - Syahdan, kurang lebih jam 9an pagi,
sehari sebelum raker NC.

Saat itu gw lagi jalan santai-santai aja, lalu
beberapa meter setelah Laysin, ada satu kejadian
yang sampe sekarang jadi suatu pelajaran buat gw.

Seekor kucing tua yang kumal, saat itu merunduk
ketakutan di tengah-tengah jalan.

Tubuhnya tidak kurus-kurus amat, tapi bulunya
yang abu-abu itu sangat lusuh dan kumal, kedua
matanya terlihat memicing, terlihat bahwa
pandangannya tidak lagi baik, dan kaki kiri depan
miliknya, buntung, entah karena tertabrak ataupun
cacat semenjak lahir.

Dengan keadaan diri seperti itu, ia tidak dapat
berpindah tempat dengan cepat. Untuk bergerak, ia
harus melompat2 kecil dengan pincang dan lambat,
dan dapat dibayangkan bagaimana sulitnya hal itu.

Saat itu ia ingin menyeberang ke sisi lain jalan
syahdan itu, tapi seperti yang kalian ketahui akan
bagaimana ramai dan padatnya jalan di sekitar
Binus...

Ia berada tepat di tengah-tengah antara kedua sisi
jalan, ia terlihat bingung, bingung dan takut.

Beberapa kali motor dan mobil melewati dirinya
dengan cepat, nyaris menyerempet atau bahkan
menabraknya, dan setiap kali hal itu terjadi, ia
merunduk dan merapatkan tubuhnya ketakutan.

Entah apa yang ada di benak kucing tua itu saat
itu.

Mungkin ia ingin menyeberang dan pulang ke
tempat hidupnya sehari-hari,
beristirahat disitu, atau mungkin sudah tidak ada
makanan di sisi jalan itu,
karena ia kalah dengan kucing-kucing lain yang
masih muda dan berfisik
lengkap.

Mungkinkah ia juga sudah lelah?
Mungkinkah ia juga sudah bosan?
Sudah muak akan kehidupannya yang cacat itu?
Mungkinkah ia juga sebenarnya sudah tidak ingin
meneruskan hidupnya?

Gw gak akan pernah tau jawabannya.

Ia mencoba berdiri dan melanjutkan perjalanannya
yang sudah setengah
sampai itu-saat ia menoleh ke kanan dengan cepat,
berusaha memandang dengan matanya yang
rabun itu, sadar akan onggokan besi besar yang
memacu ke arahnya dengan sangat cepat.

Saat itu gw gemetar, gw begitu takut. segala
sesuatunya seolah tampak seperti dalam gerakan
lambat, gw lepaskan bawaan yang ada di tangan
gw, dan hendak melompat dan berusaha
menghalau kendaraan-kendaraan disana agar
kucing tua itu bisa menyeberang dengan selamat.

Tapi saat itu akal manusia yang biasa disebut
dengan logika, mulai bertindak. Saat itu logika
mengatakan bahwa dengan melakukan hal itu,
gw juga mempertaruhkan keselamatan gw.

Benarkah itu?

Egois.

Manusia sangatlah egois dan mau menang sendiri.

Terlalu beratkah bagi supir-supir Mikrolet itu untuk
mengerem sebentar dan memberi jalan bagi kucing
tua untuk selamat sampai ke seberang?

Terlalu beratkah bagi pengendara-pengendara
motor itu untuk memacu kendaraannya dengan
wajar dan menghormati makhluk-makhluk lain yang
ada di sekitar jalan itu?

Terlalu beratkah bagi gw untuk melangkah
beberapa meter dan menyelamatkan seekor kucing
tua yang dianggap tidak berharaga itu?

Ya...
Itu semua terlalu berat.

Terlalu berat karena kita adalah manusia.
Karena kita mengaku sebagai makhluk yang paling
sempurna.
Karena kita mengaku sebagai makhluk yang paling
pintar.
Karena kita mengaku sebagai makhluk yang
tertinggi di alam semesta ini.

Tapi tidak untuk seorang pedagang itu.

Ia berlari dari gerobak dagangannya, ia berhenti di
depan kucing tua itu, menjulurkan tangan kanannya
ke arah arus kendaraan di hadapannya,
menghalau mereka dari menabrak kucing itu.

Mikrolet yang saat itu sedang menyalip dan
memacu dengan kencang,
yang beberapa detik tadi akan menjadi malaikat
kematian untuk kucing itu, membanting setir dan
menghindari pedagang itu, dan dengan geram
menyumpah kasar, "GOBLOK! DASAR BEGO!"

Seandainya Mikrolet itu tidak sempat membanting
setirnya, pedagang baik hati itu yang akan bertukar
nyawa dengan kucing tua itu...

Melihat ancaman terbesarnya telah lewat, kucing
tua itu melompat2 timpang dengan cepat ke
seberang, menuntaskan perjalanannya yang
tinggal setengah itu.

Ya, kucing tua itu memang tidak bisa
mengucapkan "Terima Kasih" untuk pedagang baik
hati yang telah menyelamatkannya itu, ia mungkin
hanya bisa tertatih-tatih berjalan menjauh dan
memandang sedih dengan kedua matanya yang
sudah rabun, tapi gw yakin, God akan mewakili
kucing tua itu untuk mengucapkan terima kasih
kepada pedagang baik hati itu.

Ada pelajaran berharga yang gw dapatkan hari
itu...

Di tengah-tengah arus jaman yang semakin
menggila ini, dimana seolah dunia semakin kejam
dan berdarah dingin, dimana seolah manusia
dituntut untuk terus berlari mengejar tanpa ada
waktu untuk menghirup nafas,

kita tidak pernah melihat atau mendengar akan
anjing yang sengaja melompat dari atap untuk
mengakhiri hidupnya, walau hari ke hari, semakin
sedikit orang yang memperdulikan hidupnya.

kita tidak pernah melihat atau mendengar akan
burung yang sengaja menelan racun untuk
mengakhiri hidupnya, walau hari ke hari lahan
untuk mencari makanan semakin sedikit, dan sulit
sekali mempertahankan keluarganya agar tetap
kenyang.

kita tidak pernah melihat atau mendengar akan
kuda yang sengaja memukulkan kepalanya ke
dinding untuk mengakhiri hidupnya, walau hari ke
hari, ia hanya dipekerjakan tanpa belas kasihan
oleh tuannya.

kita tidak pernah melihat atau mendengar akan
harimau yang memotong
sendiri lehernya dengan cakarnya untuk
mengakhiri hidupnya, walau hari ke hari tempat
hidupnya semakin dijajah manusia, dan kaumnya
semakin sedikit.

Seharusnya kita berpikir,
siapakah sebenarnya yang pintar?
siapakah sebenarnya yang kuat?

Manusia?

Kucing tua yang cacat itu, tetap berjuang untuk
hidup, walau entah berapa kali sudah kematian
mengetuk pintu jiwanya, tetapi ia tidak menyerah,
karena baginya, hidup adalah sesuatu yang
berharga, dan tidak semua di
dunia ini diberi kesempatan untuk merasakan
nikmatnya kehidupan.

Kucing tua yang cacat itu tahu betul akan hal ini,
sementara gw yang telah lahir dengan fisik
lengkap sebagai manusia, hidup selama 18 tahun
lebih di dunia ini, dan masih seringkali
mempertanyakan akan arti kehidupan dan
eksistensi gw di dunia ini.

saat itu gw melihat seolah manusia-manusia yang
berjalan dan berlalu
lalang di sekitar gw sebagai binatang... binatang
yang menutupi kebusukan dirinya dengan seribu
alasan dan lidah yang manis. binatang yang tinggal
diantara hutan-hutan gedung pencakar langit.

Mungkin kisah kecil ini bisa dijadikan sebagai
referensi, bahwa hewan pun tahu akan indah dan
pentingnya hidup ini, sementara kita manusia,
seringkali hanya membuang-buang kesempatan
yang disebut dengan "hidup" ini, hanya untuk
memperpendek kesempatan ini.

Jangan kalah dengan kucing tua yang cacat itu,
dan jadilah pedagang yang baik hati itu,

karena dalam Alkitab pernah dikatakan, tidak ada
pengorbanan yang lebih indah dibandingkan
seorang sahabat yang mengorbankan jiwanya
untuk sahabatnya.

manusia,
hewan,
tumbuhan,
alam,
semua nya adalah sahabat kita,

Jangan egois dan jangan sombong, kita tidak hidup
sendirian, kita ada disini saat ini karena kita
bersama-sama,

Jangan menyerah apapun yang terjadi, God
mungkin memang lambat, tetapi Ia tidak pernah
terlambat, dan selama kita percaya dan terus
bersemangat, segala sesuatunya itu mungkin.

written by: Robby (Nippon Club)

Previous
Next Post »