Monday, December 22, 2008

Posted by Peak Posted on 7:56 PM | No comments

Kekuatan Doa

Aku dan suamiku merasa letih pada hari Natal itu. Sebagai dosen, kami telah menyerahkan nilai-nilai semester sebelumnya pada musim gugur. Kami segera menyiapkan beberapa kopor dan mengajak anak-anak untuk mengadakan perjalanan ke rumah kakek dan nenek mereka di California. Suamiku, David, tergores jarinya ketika menutup kopor. Jarinya tak berdarah dan ia pun tak menghiraukannya. Ketika kami akan berangkat, ayahku menelepon dan mengatakan bahwa ibunya atau nenekku baru saja meninggal dunia. Pemakamannya segera setelah hari Natal.

Pada malam Natal, David mengatakan bahwa dia merasa sakit di bawah lengannya. Tetapi ia berpikir bahwa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Selanjutnya, kami berkumpul dan membuka sumbangan simpati bersama anak-anak kami dan orang-orang yang datang pada acara pemakaman. Tiba-tiba, David gemetar dan harus berbaring ketika hadiah terakhir dibuka. Dua hari berikutnya, David memburuk. Badannya terasa sakit, terutama lengannya. Ia hampir tidak dapat menahan rasa sakitnya dan akhirnya muntah-muntah. Aku menelpon dokter kami di Utah. Menurut dokter, David mungkin terserang influenza. Pada Selasa pagi, aku merasa bahwa David bisa ditinggalkan selama satu jam. Kami pergi ke gereja untuk pemakaman nenek. Lagipula, aku ikut berbicara pada acara pemakaman itu. David bisa mengurus dirinya untuk beberapa saat.

Acara pemakaman itu bisa menjadi reuni yang hangat dengan saudara-saudaraku. Aku adalah cucu perempuan yang paling tua sehingga aku berbicara mewakili semua cucu perempuan. Nenek meninggal dunia pada usia 94 tahun. Menurutku, ia mempunyai hidup yang panjang dan produktif. Para wanita dari keluarga Waite adalah pribadi-pribadi yang kuat. Ketika aku duduk, seorang tetangga memberiku sebuah kertas berisi pesan singkat yang dikirim oleh gereja bahwa suamiku telah dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.

Ketika aku tiba di rumah sakit, aku mendapatkan David di ambang kematian. Ia hampir tidak sadar. Tetapi ia cukup sadar untuk merasakan sakit yang hebat. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, ia mengatakan kepadaku bahwa badannya mulai membeku beberapa saat setelah kami meninggalkannya. Ia merasakan ada suara yang memperingatkannya, “Anda memerlukan ambulans sekarang.” Setelah mendengarkannya beberapa kali, ia merangkak ke telepon dan memutar 911. Operator berusaha agar David tetap sadar dan berbicara. Tetapi David akhirnya meletakkan telepon. Ia merangkak ke pintu depan dan membuka kuncinya. Kemudian, ia berbaring di sofa. Paramedis menemukannya dalam keadaan hampir tidak sadar dengan denyut nadi yang tak dapat dideteksi. Akhirnya, mereka melarikannya ke rumah sakit.

Beberapa tes dilakukan, termasuk di dalamnya tes dengan sinar X dan USG. Para dokter bingung karena mereka tak dapat mendiagnosis masalahnya. Ketika selesai menjalankan pemeriksaan MRI, ia memperlihatkan suatu tanda berwarna hitam keunguan di salah satu sisi badannya. “Apakah ia mabuk di jalan kecil semalam? Apakah seseorang menendangnya?” mereka bertanya. Aku meyakinkan mereka bahwa itu bukan penyebabnya. Para dokter memanggilku setelah mereka berdiskusi selama beberapa menit lagi.

“Kami rasa, kami tahu penyebabnya. Ini mungkin “necrotizing fasciitis”, atau lebih dikenal sebagai bakteri pemakan daging. Apakah Anda pernah mendengarnya?”

“Tidak”, jawabku.

“Ini adalah bakteri yang mematikan. Kami akan mengoperasinya dan membedahnya dari pergelangan tangan ke paha. Ini untuk mendeteksi jaringan yang terinfeksi. Penyakit ini sangat jarang terjadi. Bakterinya mungkin masuk ke dalam tubuhnya lewat luka. Apakah ia pernah mengalami luka di jari atau lengannya akhir-akhir ini?”

“Jarinya luka terkena resleting ketika ia menutup kopor, hanya itu.”

“Ini bakteri biasa, tetapi badan kita seharusnya bisa melakukan perlawanan. Karena sesuatu hal, bakteri ini telah menyerang suamimu. Ia mempunyai kesempatan hidup 5 - 10% untuk melewatinya. Penyakitnya sangat parah. Ia akan tampak seperti digigit ikan hiu setelah kami selesai membedahnya.”

Aku tahu bahwa persentase kesempatan hidup itu adalah cara lain untuk mengatakan bahwa suamiku mungkin akan meninggal. “Menurutku, kesempatan hidup 10% itu tetap berharga. Marilah kita mempertahankan hidupnya. Marilah kita menyelamatkannya,” jawabku. Semua anak kami masuk ke dalam ruangan untuk mendoakan kesembuhan bagi ayah mereka. Di serambi rumah sakit, para perawat membawakan kursi dan jus buat kami agar kami tidak pingsan. Kami semua kaget karena David kelihatan dalam keadaan sehat. Ternyata, ia di ambang maut karena suatu penyakit yang amat berbahaya. Saat itu, dia dalam keadaan setengah sadar. Sebelum dioperasi, aku membisikkan sesuatu kepadanya, “Pilihlah hidup, David. Pilihlah hidup.”

Aku juga tahu bagaimana cara memperbesar kemungkinan. Aku mengumpulkan keluargaku di ruang tunggu kamar operasi. Kebetulan, ruang tunggu itu kosong. Kami segera berlutut dan berdoa bersama. Aku berkata, “Bapa kami yang di surga, dokter-dokter tidak tahu apa yang diderita David, tetapi Kau tahu. Mereka tak tahu bagaimana menyembuhkannya, tetapi Kau tahu. Berkatilah mereka sehingga mereka tahu bagaimana menyelamatkan tubuh David. Biarlah kehendak-Mu yang terjadi.” Kalimat yang terakhir ini sulit diucapkan. Tetapi itu harus kuucapkan karena aku tidak boleh memerintah Tuhan.

Kemudian, aku masuk ke sebuah ruang kantor yang dikosongkan. Atas izin rumah sakit, aku melakukan telepon jarak jauh ke beberapa orang, yakni orang tua David, pendeta jemaat gereja kami, teman baikku Beth, dan kepala bagian bahasa Inggris universitas. Aku memohon agar mereka menelpon orang-orang yang kami kenal dan meminta orang-orang tersebut agar berdoa bagi David: “Dua jam setelah ini sangat menentukan hidup suamiku. Tolong doakan dia. Aku percaya akan mukjijat dan kuasa doa.” Hari itu, ratusan teman kami sedang berdoa untuk David.

Para dokter ahli bedah muncul beberapa jam berikutnya dengan membawa berita baik. Ternyata, bakteri belum menyebar seperti yang mereka duga sebelumnya. Dan, David tetap hidup. Kami bersorak dan merasa seakan-akan doa-doa kami telah terjawab. Tetapi David masih dalam keadaan sangat sakit dan tetap berada di ambang kematian. Saat itu, ada sebuah tim yang beranggotakan dua belas dokter. Mereka mempunyai spesialisasi yang berlainan. Mereka memberitahu kami bahwa bakteri strep A sedang menggerogoti kulit David serta lapisan-lapisan jaringan dan otot. Infeksinya menjalar dengan kecepatan satu inci per jam. Dokter-dokter melakukan operasi besar setiap hari. Mereka memotong jaringan yang mati atau yang terinfeksi. David diletakkan di dalam ruang “hyperbaric” selama beberapa jam setiap hari. Ruang ini bertekanan dan mempunyai daya gravitasi lebih berat daripada yang ada dalam sistem tubuh. Ruang ini diisi penuh dengan 100% zat asam. Tekanannya dinaikkan agar zat asam dapat langsung masuk ke dalam sel-selnya. David bertahan hidup dua hari lagi.

Ternyata keadaannya tidak mengalami kemajuan. Ahli bedah utama berbicara kepadaku secara jujur. “Aku mempunyai perasaan tak enak mengenai hal ini,” katanya memperingatkan. “Menurutku, bakteri-bakteri itu telah menjalar ke leher dan jantungnya.” Aku pulang dengan keyakinan bahwa kematian David akan segera tiba. Aku harus berpikir untuk merelakan kepergiannya. Sepanjang malam itu, aku mencoba berdoa untuk kehidupan David. Aku juga mencoba untuk keluar dari kegelapan yang menyelumutiku. Setelah itu, aku kembali ke rumah sakit. Aku siap untuk mengucapkan selamat jalan kepada David bila itu yang dikehendaki Tuhan. Tapi aku kaget ketika mendengar berita dari ahli bedah bahwa keadaan David berubah menjadi lebih baik. Badannya mulai bisa memerangi bakteri.

Siang itu, ahli bedah memberitahuku bahwa ia mendatangkan seseorang untuk mengamputasi lengan David. David telah kehilangan sebagian besar kulit dan ototnya. “Tetapi, David seorang pemain piano,” Aku memprotes. “Bila Anda ada di ruang bedah, mohon diingat bahwa David adalah seorang pemain piano.” Di rumah, kami memutuskan untuk berdoa, terutama untuk lengannya. Terus terang, aku belum pernah berdoa untuk suatu bagian tubuh tertentu. Setiap hari selama seminggu, para ahli bedah datang dan mereka bersiap utnuk mengamputasi lengannya. Namun, mereka memutuskan untuk membiarkannya karena lengan itu masih mempunyai beberapa jaringan yang sehat. Meskipun demikian, penyakit ini telah menggores urat saraf utama. Kalaupun tidak diamputasi, para dokter memprediksi bahwa lengan David akan lemah.

Beberapa hari kemudian, David dapat menggerakkan jari dan tangannya. “Nah, kelihatannya Anda dapat menggerakannya, tetapi bermain piano masih diragukan. Anda pun harus melupakan untuk bermain tenis“, ahli bedah mengatakan kepadanya. “ “Lagipula, andaikata Anda tiba di lapangan tenis, Anda akan bermain seperti orang yang sudah tua.” David penuh semangat karena telah mendapatkan hidupnya kembali. Ia segera menantang ahli bedah untuk bermain tenis bila ia sudah sembuh.

David hidup. Tetapi setelah beberapa bulan kemudian, ia kehilangan hampir 50% dari kulit di bagian atas tubuhnya. Para dokter mengganti kulit itu dengan cangkokan kulit yang diambil dari pahanya sampai tertutup oleh kulit yang baru. Akhirnya, ia meninggalkan rumah sakit dan pulang dengan perayaan besar. Ketika kami tinggal berdua, aku dan David saling memandang dan memutuskan untuk mencoba bermain piano di rumah. Menurutku, bila iadapat bermain beberapa nada, aku akan menganggap itu sebagai suatu keberhasilan. Dengan kekhawatiran, David meletakkan kedua tangannya di deretan tuts piano. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Apakah jari-jarinya dapat bekerja? Apakah ketrampilannya hilang untuk selamanya? Aku menahan nafas. David mulai bermain. Secara luar biasa ia masih dapat memainkan piano dengan sangat indah. Ia menggubah sebuah karya musik saat itu.

Tetapi itu bukan akhir dari kemajuan David. Dari Natal itu sampai ke Natal berikutnya, David menjalani terapi fisik untuk mengembalikan kelenturan di dada, punggung, dan lengannya. Ketika Natal berikutnya hampir tiba, kami memutuskan untuk mengunjungi orang tuaku di masa liburan. Ini untuk membuktikan kepada mereka bahwa kami dapat berlibur tanpa tanpa seorang pun yang sakit atau masuk rumah sakit. Dengan semangat tinggi, David menelpon ahli bedahnya dan mengingatkannya tentang tantangan untuk bermain tenis. Si ahli bedah senang mendengarkan tantangannya. Pada malam Natal, David dan dokternya bertemu di sebuah lapangan tenis. Mereka bermain ganda melawan sepasang dokter lainnya. Ahli bedahnya bersorak setiap kali David memukul bola. Ia memanggil dokter-dokter lain ke jaring net untuk memperlihatkan bekas-bekas dan cangkokan kulit di sekujur tubuhnya. Pada akhir permainan, David dan ahli bedahnya menang 40-0.

Meskipun tahun itu merupakan tahun yang sangat sulit bagi kami, masa itu merupakan masa yang kudus. Keluarga kami mengalami tiga mukjijat melalui cinta dan doa-doa ratusan orang di sekeliling kami. David hidup, ia tetap mempunyai kedua lengannya, serat ia dapat bermain tenis dan memainkan sonata-sonata Beethoven.

Aku mendapati bahwa sebagian besar doa permohonanku telah berubah menjadi doa ucapan syukur.

Kiriman: Lanita Winata
Diambil dari “KISAH” Edisi 49, 10 Desember 2007

Sumber : Reflecta

Categories:

0 comments:

Post a Comment