Menabur & Menuai 100 Kali Lipat

Bahan Renungan : Kejadian 26:1–6, 12–16

Saat ini seluruh dunia sedang mengalami masa–masa yang sulit, dalam sejarah tidak pernah Harga Minyak Mentah mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Harga Minyak Mentah bisa menembus angka 140 dolar perbarrellnya. Bahkan saat ini harga minyak mentah dunia diprediksikan akan terus naik

Seluruh umat manusia mengalami kesulitan, harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi. Masyarakat didunia ini banyak mengalami kesulitan, banyak orang mengalami frustasi dan makin banyak pula orang melakukan bunuh diri. Saat ini fenomena bunuh diri yang dilakukan di Indonesia adalah naik ke menara yang tinggi.

Walaupun bangsa Indonesia mengalami kesulitan kita harus tahu bahwa Tuhan sudah menjanjikan bahwa umatNya akan diberkati, namun kita harus tahu apa yang harus kita lakukan. Janji Tuhan itu bersyarat tetapi kasih Tuhan itu tidak bersyarat. Kita melihat kehidupan Ishak, Ishak juga mengalami masa yang sulit yaitu mengalami bencana kelaparan. Namun Ishak menang dalam menghadapi masa sulit tersebut. Bagaimana rahasia Ishak menang menghadapi masa sulit, ada 3 point yang bisa kita pelajari :

1. Ishak Tidak Mendikte Cara Tuhan (Kejadian 26:1–2)

Ishak mengikuti teladan ayahnya Abraham, Ia mengandalkan Tuhan sebagaimana ia melihat Bapaknya mengandalkan Tuhan. Ishak tahu cara Tuhan memberikan jalan keluar yang berbeda–beda sehingga ia tidak mengejar cara–cara manusia. Ishak mencari Tuhan disaat masa sulit. Ia tidak pergi ke Mesir melainkan ia pergi ke daerah Gerar Filistin.

Kesaksian Bapak Suyono : Ia mempunyai seorang anak rohani, anak rohaninya ini mempunyai toko Batik didaerah Malioboro. Tokonya ini terletak di pertokoan biasa bukan di Mall, ketika ia menerima surat dari pemilik ruko tersebut, ia kaget karena ia melihat harga yang ditawarkan naik 500 persen, ia bingung dan tidak bisa tidur karena ia memikirkan bagaimana ia harus membayar uang sewa tersebut. Kemudian anak rohani pak Suyono ini sadar bahwa ia tidak bisa mencari jalan keluar sendiri, maka ia berdoa dan mendapatkan jalan keluar dari Tuhan. Tuhan menyuruh ia membuat surat penawaran harga kontrak ruko yang telah dinaikkan sebesar 10-15 persen. Kemudian ia menelpon si pemilik ruko dan ia berkata : jika ibu tidak bisa menurunkan harga sewa maka ia siap untuk keluar dari ruko tersebut kapanpun, kemudian si ibu ini mengabulkan permintaan harga sewa dari si anak rohani pak suyono. Ia tahu bahwa semuanya itu Tuhan yang memberikan ide dan jalan keluar di masa sulitnya.

2. Hidup Sebagai Orang Asing

Ciri utama orang asing adalah hak–haknya di batasi. Ketika Ishak hidup di Gerar, ia hidup sebagai orang Asing. Ishak tidak sembrono dalam menjalankan hidupnya di Gerar, demikian juga kita, kita tidak boleh hidup sembrono. Apa yang Tuhan percayakan dalam hidup kita, kita gunakan secara hati–hati karena kita bukan pemilik.

Kesaksian seorang Konglomerat, ia tidak pernah mempergunakan fasilitas yang ada didalam hidupnya, karena ia tahu segala yang ia punya adalah milik Tuhan dan ia juga mengajarkan kepada bawahannya, ketika ada perjalanan bisnis yang kurang dari 5 jam, maka mereka harus naik pesawat kelas ekonomi bukan bisnis. Konglomerat ini akan menanyakan kepada Tuhan ketika ia harus memberi pada seseorang.

3. Menabur pada Masa Yang Sulit

Ishak menabur di Gerar pada saat ia tidak punya apa–apa. Tuhan akan memperhatikan benih yang kita tabur pada masa sulit. Benih yang kita tabur pada masa sulit adalah benih yang terbaik di mata Tuhan.

Kesaksian : Seorang Pengusaha Permen yang mengalami kesusahan dan hutang yang begitu banyak. Disaat ia mengalami kesulitan, ia mulai mengenal Tuhan, ketika ia pertama kali ke gereja ia mendengar kotbah tentang menabur. Pengusaha permen ini belajar memberikan perpuluhan dan ia mengambil beberapa ribu rupiah di dompetnya untuk membeli gula dan membuat permen. Permen itu ia jadikan bingkisan untuk kado natal anak–anak sekolah minggu. Ia melakukan dengan setia, tiba–tiba ia mendapat telepon dari agen gula, ia pikir ia akan ditagih untuk membayar hutang tapi ia ditawari untuk mengambil gula, untuk memulai kembali usahanya. Ketika ia bertanya bagaimana ia membayarnya, si agen gula berkata : ia boleh bayar saat sudah ada uang. Ketika ia belajar memberi di masa yang sulit, Tuhan melihat benih itu dan Tuhan memulihkan usahanya. Saat ini pengusaha permen ini masih setia memberi bingkisan natal untuk anak–anak.

Sumber : Stefanus Suyono

Ditulis oleh : Joshua Ivan Sudrajat S

Cirebon, 1 Juli 2008

Previous
Next Post »